Strategi Marketing dan Perilaku Konsumen di Era Digital

JAKARTA-REPORTER Strategi pemasaran suatu produk mengalami perubahan saat memasuki era digital. Latar belakang konsumen juga dapat memengaruhi pemilihan suatu produk sehingga diperlukan pengetahuan agar konsumen tidak salah dalam membuat keputusan membeli atau berinvestasi.

Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE UKI) mengadakan seminar dengan tema “The Marketing Strategy in The Digital Era”. Pembicara dalam seminar ini adalah Renen Zsilardo De Guzman dari University of the Philippines Baguio dan Dr. Ir. Tarcisius Sunaryo, M.A., Direktur Program Pascasarjana UKI.

Pada pemaparannya, Renen Zsilardo De Guzman memberikan sebuah contoh strategi marketing di era digital saat ini. Misalnya, suatu pusat perbelanjaan memprediksi kebutuhan belanja dari kebiasaan belanja seorang konsumen, lalu pusat perbelanjaan tersebut memberikan kupon promo produk tertentu melalui surel kepada konsumennya.

Cara belanja konsumen saat ini terbagi menjadi dua, yaitu pembeli yang membeli dengan cara tradisional (offline) dan pembeli yang membeli dengan cara digital (online). Persamaan dari kedua cara konsumen tersebut adalah konsumen mempelajari produk, membeli, menggunakan, dan mendukung perbaikan produk. Perbedaannya adalah cara pembelian online menggunakan ponsel, internet, dan media sosial. Dalam pembelian digital, konsumen mempelajari produk secara online, membeli produk lewat media online, menggunakan, dan membagi informasi produk juga online.

Konsumen yang membeli dengan cara tradisional (offline) memiliki beberapa karakteristik. Ciri ciri pembeli offline adalah terbiasa mengantri, dapat memahami penundaan, menerima permasalahan, memaafkan kesalahan produk, dan loyal pada produk. Sementara konsumen yang membeli secara online memiliki ciri selalu tidak sabar dalam menunggu produk, tidak menyukai keterlambatan, dan tidak loyal. Menurut Renen Zsilardo De Guzman, perilaku konsumen berubah ketika mereka melakukan transaksi online.

“Marketing di era media digital dapat diakses di mana saja dan kapan saja. Persaingan global membuat konsumen digital sering membandingkan harga atau kualitas produk dengan produk lainnya. Saat ini konsumen membandingkan harga dengan sangat cepat,” tutur Renen Zsilardo De Guzman.

Penelitian kepada suatu sasaran konsumen sangatlah penting dalam hal ini. Renen juga memberi penjelasan tentang keberadaan website Universitas Kristen Indonesia yang sering

dibuka oleh masyarakat. Beliau menyarankan agar UKI menuliskan “tentang UKI” lewat laman Wikipedia. Kebanyakan masyarakat mencari informasi tentang UKI lewat Wikipedia lalu masuk ke situs web resmi UKI.

Membangun suatu citra dari produk tertentu membutuhkan partisipasi dari masyarakat konsumen. Renen memberi contoh produk Starbucks yang selalu terbiasa menulis nama pembeli di gelas minumannya. Hal ini dimaksudkan agar konsumen membagi gambar produk ke media sosial mereka. Renen menambahkan perlunya inovasi dalam strategi marketing suatu produk. Ia mencontohkan Go-Jek dan Lazada dalam inovasi terkini dari produk yang banyak digunakan konsumen.

Tema kedua yang diangkat dalam seminar ini adalah “The Application of Psychology in Finance”. Pembicara dalam seminar ini adalah Diane Acosta Corpus dari University of the Philippines Baguio. Diane Acosta Corpus menjelaskan bagaimana psikologi atau kondisi kejiwaaan manusia mempengaruhi perilaku finansial dan investasi.

“Secara normal, seseorang pastinya menginginkan untung yang besar dalam waktu cepat. Hal yang harus diingat adalah semakin besar investasi maka semakin besar resiko yang didapatkan. Seseorang harus benar benar mempelajari pengetahuan produk sebelum berinvestasi, menerima keuntungan dan kerugian yang mungkin akan didapatkan,” kata Diane Acosta Corpus.

Selain hal-hal di atas, Kondisi kejiwaan seseorang juga dipengaruhi kondisi sosial, personal, dan multikultural. Keputusan investasi jangan dipengaruhi oleh keinginan emosional, namun harus didasari hal yang logis. Biasanya seseorang akan memasuki pasar investasi dengan sangat optimis dan bahagia, tetapi ketika terjadi kehilangan modal menjadi panik dan membuat keputusan irasional.