Bedah Buku ‘Faith, The Art of Sasya Tranggono’

“For my Lord Jesus Christ. To Him be the glory for the things He’s done in me. And to younger generation of Indonesian to appreciate our own arts and culture” –Sasya Tranggono-

Sasya Tranggono dan Dr. Retno Tranggono menghadiri acara Bedah Buku ‘Faith, The Art of Sasya Tranggono’, yang digelar Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia bersama Sasyita Heritage. Bedah buku digelar di Ruang Video Conference, Gedung AB, Kampus UKI (08/03). Penulis buku ini ialah Jean Couteau. Dr. Yugiantie Solaiman, M.A. menjadi moderator dalam acara ini.

Buku ‘Faith, The Art of Sasya Tranggono’, kisah perjuangan perempuan, cat air, dan menjadi duta bangsa. Buku tersebut menandai perjalanan Sasya Tranggono dalam 30 tahun berkarya di dunia seni rupa. Buku ini diluncurkan bersamaan dengan pameran lukisan yang berjudul “30 Tahun Berkarya: Cinta untuk Indonesia.”

Dr. Retno Tranggono ialah Ibu dari Sasya Tranggono. Retno Iswari Tranggono dikenal sebagai dokter ahli atau spesialis kulit dan kelamin di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus pengusaha terkenal di bidang kosmetika.

Dokter Retno bercerita, “Saya mengarahkan Sasya Tranggono menempuh studi Teknik Industri di Smith College, Universitas Syracuse, New York, Amerika Serikat agar Sasya mampu meneruskan bidang industri kosmetika yang telah kami rintis yaitu grup perusahaan Ristra. Namun Sasya lebih ingin menekuni bidang Lukisan Cat Air. Keluarga sangat mendukung pilihan Sasya untuk mengangkat kesenian tradisional Indonesia agar lebih dikenal di dunia internasional.”

Lingkungan keluarga membentuk karya seni lukis Sasya Tranggono dipenuhi keriangan dengan aliran lukisan Modern Kotemporer.

“Saya bahagia sekali menemukan passion saya yaitu melukis dengan cat air yang dapat menembus dunia. Salah satu karya lukisan saya ialah “The Last Supper”, saya melukis Yesus dengan murid-murid Nya dalam nuansa Jawa. Saya bisa menggambar Yesus karena Iman kepercayaan saya yang besar pada Yesus, “ ungkap Sasya Tranggono.

Salah satu karya lukisan Sasya Tranggono ‘The Last Supper’. Lukisan Yesus dengan murid-murid Nya dalam nuansa Jawa.

Sasya melanjutkan studi manajemen di Rotterdam School of Management, Universitas Erasmus, Belanda (1991). Di Rotterdam, Sasya belajar seni rupa dan bergabung di Vrije Academie Rotterdam dan The Werve Shell Art Club di Den Haag, Belanda (1995).

Susanne Sitohang, S.S., M.A membedah buku dengan judul The Manifold Artistic Faces of the Metamorphosized Artist “Sasya Tranggono”. “Melalui lukisan wayang, Sasya memperlihatkan dirinya sebagai orang Indonesia. Ide melukis wayang, Sasya dapatkan dari pelukis Indonesia, Benny Setiawan. Dari Benny Setiawan juga, Sasya Tranggono mempelajari berbagai teknik melukis,” ujar Susanne Sitohang.

Selanjutnya, Pendeta Wellem Sairwona, M.Th menjelaskan walaupun Sasya bukan rohaniawan, aktivis pelayanan, apalagi teolog, tetapi karya profesional sangat diwarnai nilai dan ajaran kekristenan, baik dari gambar lukisan maupun judul dari lukisan.

“Ada 3 fase lukisan karya dari Sasya Tranggono yaitu wayang, bunga dan kupu-kupu. Fase wayang, pada tahap itu obyek lukisannya sosok wayang golek. Fase bunga yangmengeksplorasi berbagai jenis bunga, Sasya mengekspos warna keindangan bunga. Fase kupu-kupu yang merupakan pembaruan budi yang terjadi dalam kehidupan manusia,” tutur Pendeta Wellem Sairwona.

Sasya Tranggono menutup bedah buku dengan berpesan agar generasi muda Indonesia untuk melestarikan kesenian tradisional dan budaya Indonesia.