CERPEN : REMEMBER YOU

Saat itu cuaca yang begitu panas membuat aku harus mampir kesebuah cafe dipinggir jalan untuk menyejukkan diri. Banyaknya pelanggan dicafe itu membuatku menunggu pesanan cukup lama. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang berjalan menghampiriku dengan membawa sebuah es krim ditangannya. “ silahkan dinikmai” pelayan itu berkata dengan senyuman diwajahnya. “Oiya, terima kasih” balas ku kepada pelayan itu.

Tiba-tiba seorang laki-laki yang tidak kukenal menarik kursi disebelah mejaku dan duduk tepat dihadapanku. Dengan heran aku menatap orang tersebut selama 10 detik. Lalu dia balas menatapku kemudian, “boleh aku duduk disini ? tidak ada tempat kosong lagi.” Katanya kepadaku. Sejenak aku melihat sekeliling dan ternyata semuanya memang sudah penuh, dan aku melihat dia yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya kepadaku, “iya silahkan” jawabku kepada orang tersebut.

Aku asik menikmati kegiatanku dengan ditemani es krim yang menyegarkan tenggorokanku. Ditengah keasikanku, aku terkejut dengan suara yang memecah keheningan beberapa saat yang lalu, suara itu seakan mengajakku untuk berbicara. Aku mencari arah suara itu, lalu aku tersadar bahwa dihadapanku sedang duduk seseorang yang sedari tadi memperhatikanku.

“ Apa kamu sedang menunggu seseorang ?” pertanyaan itu kembali diucapkan oleh orang yang duduk dihadapanku itu, karena dia menyadari bahwa tadi aku tidak merespon pertanyaan sebelumnya. “tidak” jawabku singkat. Saat itu dia memulai percakapan diantara kami dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya. Awal yang canggung sudah tidak kami rasakan lagi dan kami memulai percakapan dengan santai, seolah-olah kami sudah pernah bertemu sebelumnya.

Kami asik dengan bahan percakapan kami hingga kami lupa bahwa kami sudah cukup lama berada ditempat itu. Aku melihat jam ditanganku sudah menunjukan pukul 14;15 WIB, tidak terasa 2 jam sudah berlalu begitu saja. Aku berkata kepadanya bahwa aku harus pergi, “aku juga harus pergi” balasnya kepadaku.

Dia melihatku dengan senyuman dan berkata senang bahwa kami bisa mengobrol tanpa rasa canggung dan berharap di lain waktu, ditempat yang baru kami bisa bertemu kembali. See you next time, itu kata terakhir yang ku dengar dari dia. Aku hanya mengatakan “terima kasih untuk waktumu”, lalu aku pergi dengan senyum kecil dibibirku.

Kami masing-masing menggambil jalan dengan arah yang berlawanan. Saat itu aku berjalan lurus tanpa melihat kebelakang lagi, tiba-tiba ada sesuatu yang menghampiri pikiranku dan membuat langkah kakiku terhenti. Oiya, nama..! seruku didalam hati aku ingat bahwa aku lupa menanyakan namanya saat itu padahal kami sudah berbicara panjang lebar, “ah sudahlah” kataku mengakhiri pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Aku kembali berjalan dan fokus dengan apa yang aku lakukan.

«…»

Ahh.. bego! kenapa bisa lupa sih? seorang laki-laki yang sedang kesal seolah-olah mengingatkan dia akan sesuatu. Seharusnya tadi aku tanyakan itu dari awal, bagaimana aku biasa menghubunginya kalau namanya saja aku tidak tau. Kembali lagi dia kesal akan kesalahannya tidak menanyakan nama kepada gadis yang dijumpainya

di cafe tadi. Tiba-tiba bunyi dering handphone terdengar. Hallo bro! Kenapa? Ok sebentar lagi aku sampai, bro ada yang ingi aku ceritakan tentang hari ini.

“Cerita apa ?” rasa penasaran terdengar dari sebrang telephone laki-laki tersebut. kamu pasti tidak akan menyangka dengan apa yang terjadi barusan denganku, nanti akan kuceritakan sesampai aku disana” jawab laki-laki itu. Tak lama kemudian telphone tesebut dimatikan. Laki-laki tersebut mempercepat langkah kakinya untuk bisa sampai ketempat tujuannya.

«…»

Warna langit yang berubah menandakan satu hari telah berlalu. Pertemuan yang tak terduga itu diakhiri dengan perkenalan tanpa nama. Tak satu pun dari mereka berdua menanyakan pertanyaan penting tersebut. Sebuah pertemuan adalah awal dari perkenalan. Kuncinya ada ditangan kita, apakah kita mau mengakhiri pertemuan itu tanpa mengenal satu sama lain, atau menjadikan pertemuan itu memiliki akhir sebuah cerita.

Ditulis oleh : Sumiati

sumber gambar: guritan.id