Character Building FK UKI: Menjaga Nilai Luhur Kesantunan, Kesejawatan, dan Kebersamaan

JAKARTA-REPORTER Menurut T. Ramli (2001), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Kampus/universitas sebagai salah lembaga pendidikan, memiliki tanggung jawab untuk mencetak peserta didik yang bermoral dan beretika bagi bangsa dan negara.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK UKI) sebagai salah satu pencetak dokter-dokter muda Indonesia, merasa perlu membimbing para mahasiswanya agar kelak menjadi dokter-dokter yang berkarakter. Untuk itu FK UKI melaksanakan Seminar “Character Building” untuk mahasiswa/i FK UKI selama tiga hari, 19-21 Juli 2017, di Auditorium Grha William Soeryadjaya, UKI Cawang. Acara ini dibuka dan disambut langsung oleh Dekan FK UKI, dr. Marwito Wiyanto, M. Biomed, AIFM.

Para mahasiswa diarahkan dan diberikan materi oleh narasumber-narasumber berpengalaman di bidangnya masing-masing, di antaranya, Singgih Sasongko, S.IP., M. Si (Kaprodi Ilmu Komunikasi FISIPOL UKI), Dr. Med. dr. Abraham Simatupang, M. Kes, (Dosen FK UKI), Ev. Heru Tjandra Mulia (NAT Ministries), Pdt. Wellem Sairwona, M. Th. (Pendeta Kampus UKI), dr. Doddy Partomiharjo, Sp. M (Ketua Umum Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesi (FIAKSI)). Dr. M. Nasser Sp.KK, FINSDV,AADV, D. Law., (Indonesia Health Law Lecturer Assosiation), Ir. Herald Siagian (H8 leadership Center), dan dr. Louisa A. Langi, M. Si., MA. (Wadek III FK UKI).

dr. Doddy, dari FIAKSI, menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk membentuk karakter calon dokter, yaitu Kesejawatan, Kesantunan, dan Kebersamaan (3K), sehingga kelak mereka menjadi alumni dokter yang berkarakter.

“Kami merasa bahwa dimensi kesantunan, kesejawatan, dan kebersamaan ini perlu kita bangkitkan kembali, karakter dokter Indonesia harus begitu. Jadi, janganlah jasa kesehatan itu diperlakukan sebagai produk jasa, semua ada rambu-rambunya. Bagaimana kita bersikap kepada penderita, rekan sejawat, dan kepada lingkungan. Ada tanggung jawab kepada sejawat (dalam sumpah dokter), kita harus menghargai mereka,” tutur dr. Doddy kepada tim Reporter.

Dr. Doddy juga memaparkan dalam presentasinya bagaimana cara calon-calon dokter menghadapi persaingan saat ini, yaitu dengan kembali ke karakter 3K, menghilangkan disporitas kualitas dokter, membangun dwitunggal almamater-alumni, dan mengembangkan komunikasi antar alumni FK melalui forum.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar calon-calon dokter ini senantiasa menjaga nilai luhur Kesantunan, kesejawatan, dan kebersamaan? dr. Nasser menjawab dalam presentasinya, yaitu dengan menghargai kebersaman dan kesejawatan dengan sesama mahasiswa kedokteran, belajar untuk santun kepada semua orang, dan belajar meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, serta ,menjunjung tinggi profesi luhur kedokteran.

“Selain memberikan pendidikan terhadap pengetahuan dan keterampilan, juga diberikan pendidikan etika dan akhlak. Yang paling penting, kita mendukung upaya-upaya perguruan tinggi untuk siapkan proses belajar-mengajar ini menjadi proses belajar yang positif, yang mendukung, agar ketika menjadi alumni, alumni itu adalah alumni yang taat moral dan taat asas,” ujar dr. Nasser.

Di akhir Seminar, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FK UKI, dr. Louisa A. Langi, M. Si., M.A., yang juga aktif di organisasi Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional), mengajak para mahasiswa untuk bersama-sama mengucapkan dengan lantang, “Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, NKRI Harga Mati!”

(jeh/lis)