Dekan FS UKI Hadiri Konferensi Internasional Kesetaraan Gender di Filipina

JAKARTA-REPORTER                          Dalam rangka 50 tahun ASEAN, Komisi Pendidikan Tinggi Filipina (Commission on Higher Education–CHED, Republic of Philippines) menyelenggarakan Konferensi Pengarusutamaan Gender di Pendidikan Tinggi. Konferensi Internasional ini diikuti oleh sepuluh negara anggota ASEAN mulai tanggal 27  – 29 November 2017 di Manila, Filipina. Indonesia diwakili oleh Prof. Dr. Emy Susanti, Dr. E. Kristi Poerwandari, Dr. Ina Hunga, Dr. Titik Sumarti, Dr. Saras Dewi, dan Dr. Ied Veda Sitepu.

Dr. Ied Veda Sitepu saat presentasi di Manila.

Dr. Ied Veda Sitepu, S.S., M.A, yang merupakan Dekan Fakultas Sastra UKI, memaparkan pengarusutamaan gender (PUG) di pendidikan tinggi dalam kerangka akademik dan pengembangan program studi gender. Lulusan Program Magister dari  Ateneo de Manila University ini menjelaskan bahwa selain mata kuliah gender, isu-isu gender juga dibahas dalam mata kuliah dan aktivitas kelas di Indonesia. Keberadaan Pusat Studi Wanita atau gender berperan besar dalam PUG di pendidikan tinggi. Saat ini ada 142 Pusat Studi Wanita dan Gender di Indonesia. Inilah yang berperan dalam melatih dan menambah jumlah focal points di dalam institusi.

Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender melalui pembinaan dan berbagai kegiatannya selama ini juga telah memberikan perhatian terhadap pertumbuhan dan pengembangan studi-studi gender di Indonesia dan berharap agar setiap institusi dapat mendirikan dan mengembangkan pusat studi wanita dan gender di Indonesia.

“Dari Konferensi Manila tersebut kita belajar bagaimana upaya-upaya pencapaian kesetaraan gender di pendidikan tinggi. Peran pemerintah juga sangat besar dalam hal ini. Dalam hal PUG, Pemerintah Filipina terdepan karena telah mengalokasikan 5% anggaran negara untuk PUG,” ungkap salah seorang pendiri Pusat Studi Wanita UKI ini.

Dalam pemaparannya, Doktor lulusan University of Kassel ini menjelaskan beberapa strategi gender dan pembangunan dalam pengembangan kurikulum, antara lain, gender sebagai mata kuliah wajib atau elektif dalam MKU,  pelatihan terintegrasi gender pada tingkat universitas dan fakultas, pembentukan komisi gender di universitas, penguatan dan pengembangan Pusat Studi Wanita dan Gender, menciptakan lebih banyak focal points di fakultas maupun prodi, mengembangkan modul-modul dengan menyertakan perspektif gender, dan mengeluarkan sertifikat keahlian gender.

“Yang juga penting adalah menciptakan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan organisasi kemahasiswaan yang mengarah pada kesetaraan gender. Kita harus membuat agar pendidikan tinggi di ASEAN berkomitmen dalam pendidikan tinggi yang berkeadilan gender, yang menerapkan kesetaraan gender dalam setiap aspek”, tandas Dr. Ied Veda Sitepu, S.S., M.A.