DESIGN YOUR DESTINY

JAKARTA-REPORTER Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling Universitas Kristen Indonesia (UPKK UKI) mengadakan Seminar Pengembangan Diri bagi mahasiswa/i UKI dengan Tema “Design Your Destiny” pada Selasa, 21 Maret 2017, di Ruang Seminar Lantai 3, Gedung AB, Kampus UKI Cawang, Jaktim. Seminar ini dimulai pukul 13.30-16.00 WIB dan diikuti oleh 90 mahasiswa/i UKI.

Acara ini dibuka dengan doa dan sambutan yang dibawakan oleh Pdt. Esther Rela Intarti, M.Th.,

“Kalau UKI saat ini bisa menghadirkan Pak Wongso kita sangat bersyukur, mungkin dari materi yang akan diajarkan paling tidak ada satu singgungan dengan tujuan hidup. Kalau di Semester 1 kalian telah belajar tujuan hidup dari perspektif Kristiani, saat ini mungkin kita akan melihat dari perspektif lain dan ini sangat dekat dengan kehidupan kalian. Ini adalah pelayanan dari UKI untuk Mahasiswa UKI, jadi ada sesuatu yang diberikan UKI kepada mahasiswa, kiranya ini dapat benar-benar kalian manfaatkan,” ucap Pdt. Esther.

Narasumber seminar, David Wongso, S.Psi., M.M., M.B.A., adalah CEO dari Perusahaan Konsultan Davehunt International dan Mantan Direktur HRD & GA PT. Indovision, yang memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia dan 11.000 karyawan. Beliau mengaku, ini adalah pertama kalinya dia datang ke UKI dan menjadi pembicara.

“Ini pertama kali saya hadir di Kampus UKI, mudah-mudahan apa yang saya share bisa menambah wawasan kalian dan membawa pencerahan,” kata David.

David memaparkan perbedaan dan persamaan empat generasi di dalam dunia kerja, empat generasi tersebut adalah Baby Boomer, Generasi X, Generasi Y, dan Generasi Z. Untuk pertama kali dalam sejarah, empat generasi bertemu dalam dunia kerja dan bekerja sama dalam satu tim.

Baby Boomers adalah generasi yang sangat mengedapankan nilai disiplin dan keseriusan karena mereka adalah generasi yang membangun kembali roda perekonomian pasca peperangan. Kemudian ada generasi yang saat ini paling banyak menduduki kursi di manajemen perusahaan, yaitu Generasi X. Selanjutnya, generasi yang memenuhi kursi-kursi di kantor dengan ide-ide cemerlang dan brilian, dia adalah Generasi Y. Last but not least, Generasi yang disebut sebagai Generasi Digital, yang mahir dengan teknologi informasi, mereka adalah Generasi Z.

David mengakui, keinginan untuk menjadi seorang konsultan sudah ada dalam dirinya sejak ia duduk di bangku kuliah karena ia merasa pekerjaan tersebut cocok dengan passion-nya.

“Waktu kuliah saya punya semacam hati ingin menjadi konsultan karena passion saya senang membaca, bertemu dengan banyak orang, senang belajar, research, dll,” tutur David.

Menurut David Wongso, selain memiliki passion, sangatlah penting kita memiliki visi dan goals. Karena visi-lah yang membuat kita setiap bangun tahu arah dan tujuan hidup.

“Pesan saya, temukan passion, dan biasanya kita menemukan passion bukan karena suka, tapi karena talenta yang sudah diberikan oleh Tuhan,” jelas David.

Ketika salah satu mahasiswa menanyakan apa ukuran sebuah kesuksesan menurut David, David menjawab bahwa sesungguhnya ukuran kesuksesan bukanlah uang ataupun kekayaan. Lalu apa?

“Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya, tapi saya heran makin kaya kenapa makin pelit? Kesuksesan yang dimaksud di sini adalah Tuhan menciptakan kamu apa dan berapa banyak talenta yang kamu punya digunakan untuk kebaikan,” jawab David.

David memotivasi para mahasiswa agar mereka mampu mengembangkan talenta yang mereka punya.

“Tuhan sudah mendesain hidup kalian, masing-masing punya keunikan, dan tidak ada satu pun yang sama persis. Itulah keunikan pencipta kita, sekarang tinggal bagaimana kita menemukannya,” ucap David Wongso.

(jeh/lis)