Dies Natalis XXX PALAMA FEB UKI; Tata Kelola Bentang Alam dalam Pengurangan Resiko Bencana

“Bencana itu hanya persepsi manusia, alam hanya mencari kestabilan semata, “ hal ini diungkapkan Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Muchamad Saparis Soedarjanto, pada Dies Natalis XXX Palama FEB UKI (27/02).

Hadir dalam kegiatan ini Dekan FEB UKI, Juaniva Sidharta, S.E., M.Si, beserta jajarannya, Ketua Acara Dies Natalis PALAMA FEB UKI Julianti Souisa, Ketua Umum PALAMA FEB UKI Patrisius Dacosta, beserta anggota PALAMA FEB UKI.

Tema lengkap seminar tersebut adalah “Sumber Daya Alam vs Sumber Daya Manusia: Kebijakan Tanggap Bencana dalam Pembangunan Nasional”. Dalam TOR (Term of Reference) seminar yang disusun panitia, dijabarkan konsep pembangunan tanggap bencana mencakup kebijakan-kebijakan yang mempertimbangkan potensi bencana, pelaksanaan pembangunan ramah lingkungan, antisipasi dan mitigasi bencana.

Hal tersebut mendesak untuk didorong pelaksanaannya, karena dalam beberapa tahun terakhir terlihat jelas upaya serius pemerintah untuk meningkatkan kemampuan menanggulangi bencana. Tapi setiap kali bencana alam terjadi, kerugian yang mesti ditanggung masih tergolong sangat besar, baik dalam bentuk kerugian materi maupun korban jiwa.

Bencana di beberapa daerah bahkan membuat hasil pembangunan dalam beberapa tahun menjadi sia-sia, sehingga harus diulang lagi dari awal. Karena itu, peningkatan kemampuan tanggap bencana mesti menjadi bagian integral dari program-program pembangunan.

Muchamad Saparis menjelaskan tata kelola bentang alam dalam pengurangan resiko bencana. Doktor Geografi Fisik dari UGM ini mengatakan bahwa tata kelola bentang alam adalah langkah strategis pemenuhan  barang dan  jasa tanpa merusak tanah, air dan sumber daya alam lainnya, serta  penting untuk menjamin  ketahanan air, pangan dan energi (FAO, 1985).

Materi yang dibawakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, sesuai dengan latar belakang pemikiran yang mendorong penyelenggaran seminar oleh Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (PALAMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UKI, yakni pentingnya mengawal pembangunan tanggap bencana dan ramah lingkungan di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat kerusakan lingkungan. 

“Indonesia tersusun atas konfigurasi topografis dan material dengan potensi degradasi tinggi. Kondisi bentang alam perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan Sumber Daya Air dan pengendalian daya rusak air. Pergerakan air sebagai faktor penentu kondisi bentang alam, “ ungkap Dr. Muchamad Saparis.

Penyerahan plakat dari FEB UKI terhadap Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Muchamad Saparis Soedarjanto

Menurut Muchamad Saparis Soedarjanto, konfigurasi topografis Indonesia berpegunungan dan berbukit-bukit dengan lereng terjal menyebabkan potensi aliran permukaan dan longsor tinggi. Kesalahan tata kelola lahan dan tata ruang mengganggu ketahanan air, pangan dan energi serta meningkatkan potensi bencana.

PALAMA FEB UKI sepenuhnya menyadari bahwa keberhasilan menjalankan pembangunan tanggap bencana mesti juga melibatkan peran aktif masyarakat. Masyarakat mesti memiliki wawasan memadai tentang bencana alam, langkah-langkah antisipasi dan penyelamatan. Dengan demikian korban jiwa dapat dihindarkan dan kerugian materil diminimalisir. Demikian juga dengan wawasan kelestarian lingkungan, yang sangat penting dimiliki masyarakat agar berperan aktif menecegah bencana akibat kerusakan lingkungan.

Kegiatan yang diselenggarakan organisasi pecinta alam mahasiswa FEB UKI ini turut dimeriahkan oleh tarian Dayak, tarian Papua dan pemotongan kue ulang tahun dalam rangka Dies Natalis FEB UKI ke-30.

Acara ini disponsori oleh PT. Freeport Indonesia, Krisnawan, Nugroho & Fahmy Public Accounting Firm, PT. Kino Food Indonesia, Bank BNI 46