Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi Goes to Campus UKI Cawang: ‘Semua itu tentang Ekranisasi Karya dan Imajinasi Penonton’

Selamat Datang di Kampus Kasih, Universitas Kristen Indonesia,” ujar Eldaa Suryani sebagai MC acara silahturahmi budaya dan akademik yang diadakan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia bersama dengan Himaya Studio di ruangan Aula UKI (10/07). Acara ini bertujuan sebagai bentuk pengenalan perspektif sastra dan promosi film, “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”

Sebagai bentuk peresmian, acara ini dimulai dengan kata sambutan dari Himaya Studio (Hari Purnomo) dan Dekan FS UKI (Susanne Sitohang, S.S., M.A.). Dengan diadakannya acara ini, diharapkan masyarakat bisa mengetahui karya sastra (bentuk novel, film, ataupun lainnya) secara lebih mendalam dan memandangnya sebagai karya yang tidak asing lagi.

Sesi pertama acara ini adalah diskusi panel yang dibawakan oleh Kaprodi Sastra Inggris FS UKI (Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum). Diskusi panel ini membawa tema bertajuk, “Menyorot Ekranisasi Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.” Ekranisasi merupakan bagian awal dari alih wahana karya sastra di mana ada pandangan dan respon yang berbeda dari setiap karya yang diekranisasikan. Ada tiga bentuk ekranisasi yang dijelaskan yaitu, cerpen, TV movie, dan filmnya sendiri yang akan tayang pada tanggal 18 Juli 2019. Ketiga bentuk ekranisasi ini diapresiasi masing-masing sesuai aktualisasi yang diberikan, bisa terlihat dari penokohan dan konflik sosial yang terjadi. “Konflik gender bermain sangat cair. Mas Seno sebenarnya feminis atau nggak sih? Di satu sisi mengiyakan bahwa ada konsep perempuan tidak lebih dari sekadar objek, yang semuanya dinilai dari bibirnya, harumnya, suaranya, dan postur tubuhnya. Di satu sisi lagi saya temukan cair mengenai kekuatan perempuan, tidak ada upaya agresif yang menjual tentang dirinya tetapi tetap mampu untuk menarik semua laki-laki,”tambahnya saat menganalisis ringkas bentuk ekranisasi, yaitu cerpen DMDM.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pemberian hadiah kepada peserta yang bertanya. Pemain dan kru film DMDM siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mereka baik kepada penulis cerpen, pemain film, maupun sineas. Pemain film yang hadir di antaranya ada Elvira Devinamira yang berperan sebagai Sophie, Mathias Muchus sebagai Pak RT, dan Totos Rasiti. Peran Sophie di film ini sangat kuat kecantikannya yang terlihat memang dengan dari inner beauty seorang perempuan.

Kehadiran Seno Gumira Ajidarma sebagai penulis cerpen DMDM juga memperkuat bahan pembicaraan kesusastraan dari cerpen dan film beserta komponennya. John De Rantau selaku sineas mengungkapkan, “Semua ini tentang karakter, prasangka, dan imajinasi. Film ini mahal dalam karya sastra saat menemukan diri berefleksi mengenai kejujuran dan kegelisahan dari elemen-elemennya.

Setelah itu, acara ini ditutup dengan pemberian plakat dan sesi foto peserta bersama pemain dan kru.  

Catherine Monica