“Dinamika Regionalisasi Inklusif di Asia Tenggara : Refleksi 50 Tahun ASEAN”

JAKARTA-REPORTER Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) bekerja sama dengan Pusat Studi ASEAN Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Kristen Indonesia mengadakan Seminar dan Bedah Buku Dinamika Regionalisasi Inklusif di Asia Tenggara: Refleksi 50 Tahun ASEAN, Senin (3/4) bertempat di Auditorium Grha William Soeryadjaya, FK UKI, Cawang, Jaktim.

Selain seminar dan bedah buku, kegiatan ini juga diisi dengan lokakarya yang mengangkat dua topik menarik, yaitu Bencana Alam dan Lingkungan Hidup, serta Migrant Worker di ASEAN. Narasumber yang menjadi pembicara dalam kegiatan ini di antaranya; Zahrul Azhar Hans (Kepala Pusat Studi ASEAN Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang, Jatim), Angel Damayanti (Dekan FISIPOL UKI), Hendra Manurung (Kaprodi HI President University), Verdinand Robertua (Dosen FISIPOL UKI), Yuliana Riana (Kepala Pusat Studi ASEAN London School of Public Relation), Roostiawati (Direktur Pengembangan Pasar Kerja, Kementerian Tenaga Kerja RI), Raffles Brotestes Panjaitan (Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup, Yuyum F. Paryani (Komisioner RI di ASEAN Commission for Women and Children), dll.

Selain para narasumber tersebut, hadir pula Duta Besar RI, Foster Gultom, beliau dulunya merupakan Dubes RI pertama yang ditempatkan di Kazakhstan. Foster hadir memberikan sambutannya.

“Tahun 2017 ini menjadi momen penting bagi kita semua masyarakat ASEAN, tepat pada 8 agustus nanti sekitar 600 juta warga negara ASEAN akan merayakan berdirinya ASEAN. Kiranya perayaan 50 tahun ASEAN tersebut dapat membawa makna bagi setiap masyarakat di negara-negara anggota ASEAN dengan penuh rasa memiliki rasa kecintaan, rasa kepedulian satu sama lain karena kehadiran ASEAN benar-benar dapat dirasakan manfaatnya bagi kita semua masyarakat ASEAN yang inklusif, berdaya saing, berkelanjutan sesuai dengan visi,” kata Foster.

Wakil Rektor Non Akademik UKI, Dr. dr. Gilbert Simanjuntak, Sp. M(K), hadir untuk membuka acara dan memberikan sambutan mewakili Rektor yang tidak dapat hadir.

“Terima kasih sudah bersedia hadir untuk kemudian bersama-sama menyimak bedah buku Dinamika Regionalisasi Inklusif di Asia Tenggara: Refleksi 50 Tahun ASEAN, untuk menjadi refleksi kami. Terima kasih kepada kementerian Luar Negeri, mudah-mudahan kerja sama ini

semakin diperkuat. Kita berharap dengan kerja sama ini, UKI bsisa memberikan kontribusi untuk kemudian memberikan masukan kepada Kemenlu RI, dan mahasiswa juga mendapatkan tambahan pengetahuan,” ucap Gilbert.

Menurut Verdinand Robertua, salah satu dosen UKI, Dinamika konsep regionalisasi hanya menambah beban negara anggota, tetapi tidak berkontribusi secara signifikan terhadap penyelesaian masalah negara anggota ASEAN karena ekslusifitas konsep regionalisasi cenderung kepada masalah politik. Regionalisasi inklusif adalah sebuah semangat reformasi yang menjadi gerbang untuk negara-negara menawarkan konsep di tatanan global.

Hendra Manurung menambahkan, Selama 50 tahun jalannya ASEAN, ASEAN telah mengalami pasang surut dalam politik maupun globalisasi.

“Keadaan ASEAN damai dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Kita menyaksikan ASEAN telah bertransformasi menjadi organisasi yang berdasarkan hukum, cakupan kerja samanya juga semakin diperluas,” tutur Hendra.

Kepala Pusat Studi ASEAN Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang, Jatim, Zahrul Azhar yang hadir sebagai penanggap mengingatkan perihal politik identitas dan potensi konflik di ASEAN. Menurutnya, regionalisasi inklusif tetap membutuhkan kerukunan dan keamanan sebagai jaminan berjalannya aneka program pemberdayaan. Masayarakat saat ini harus mengingat perjuangan para tokoh-tokoh terdahulu yang menjaga keutuhan, seperti penghapusan Piagam Jakarta.

“Dahulu, kebanyakan di Malang, yang punya orang Tionghoa, pegawainya juga Tionghoa, yang punya toko orang India, pegawainya pun orang India. Sementara dengan upaya tokoh-tokoh pendiri Indonesia menghapus semua perbedaan menjadi NKRI, sehingga ini harus menjadi semangat yang kuat,” ucap Zahrul.

(jeh/lis)