Guru Besar UKI: Senyawa Tanaman Sambiloto Selamatkan Manusia dari Pandemi Covid-19

“Penelitian lanjutan terkait kandungan senyawa bioaktif tanaman sambiloto dapat dilakukan untuk mendapatkan standarisasi di seluruh produk sambiloto. Tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu senyawa yang dihasilkan oleh sambiloto dapat menyelamatkan manusia dari pandemi Covid 19, “ ujar Guru Besar Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI, Prof. Marina Silalahi, dalam Orasi Ilmiah pengukuhan kenaikan Jabatan Akademik fungsional sebagai Profesor dalam bidang ilmu Etnobotani (28/01) di Kampus UKI Cawang.

Rektor UKI, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA, turut menjelaskan, “Menjadi fungsi Perguruan Tinggi untuk menghasilkan Guru Besar yang berkiprah untuk kesejahteraan masyarakat di bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bidang Etnobotani ini  dibutuhkan oleh bangsa dan negara. Guru Besar merupakan jabatan fungsional tertinggi bagi seorang dosen. Bukti pengabdian dosen yang bersangkutan, hasil profesionalisme pengajaran yang bersangkutan, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat.”

Prof. Marina Silalahi, Peraih Juara ke-3 Dosen Berprestasi di tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III tahun 2019 ini menjelaskan studi etnomedisin merupakan salah satu bidang kajian etnobotani untuk mengungkapkan pengetahuan atau kearifan lokal berbagai etnis dalam upaya menjaga dan memelihara kesehatannya.

“Penelitian etnomedisin saat ini banyak ditujukan untuk menemukan senyawa kimia baru sebagai bahan baku dalam pembuatan obat industri farmasi terutama penyakit berbahaya, seperti obat kanker dan tidak menutup kemungkinan untuk mengatasi Covid 19,” tutur kelahiran Bah Raja Sibisa, 26 September 1972 ini.

Prof. Marina Silalahi mengungkapkan bahwa di akhir tahun 2020 hingga awal Januari 2021, sambiloto menjadi tanaman yang diyakini Negara Thailand untuk mengobati atau paling tidak mengurangi dampak negatif Covid 19.

“Setelah saya telusuri, ternyata pemanfaatannya untuk mengatasi Covid 19 diadaptasi dari kearifan lokal etnis di Thailand. Sambiloto merupakan jenis tanaman yang terdaftar sebagai obat esensial nasional di Thailand terutama untuk mengatasi gejala flu atau influensa. Dalam buku Materi medika III, sambiloto resmi tanaman obat Indonesia, herba sambiloto digunakan sebagai diuretika dan antipiretika,” ujarnya.

Selama menjadi akademisi, Marina Silalahi berhasil mempublikasi beberapa penelitiannya di Jurnal Internasional Bereputasi dan Jurnal Nasiona terakreditasi. ”Sebagai akademisi, kami melakukan tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, pengajaran, penelitian, Pengabdian Kepada Masayarakat serta tugas penunjang lainnya sebagai dosen. Salah satu karya ilmiah saya ialah tentang kearifan lokal dan keanakeragaman hayati Indonesia khususnya Etnis Batak yang memiliki nilai ilmiah yang sangat baik dan penting dilestarikan, “ ungkap Marina Silalahi.

Marina Silalahi ingin mengembangkan produk lokal etnis Batak menjadi produk komersial. Salah satunya ialah produk hasil penelitian dalam bidang kesehatan seperti sauna tradisional atau disebut oukup dan kuning untuk masker tubuh.

Marina Silalahi menekankan pentingnya integrasi kearifan lokal dan iptek khususnya etnomedisin untuk pembangunan berkelanjutan, baik untuk pengambil kebijakan, peneliti. Penelitian yang terintegrasi dari berbagai keahlian ilmu dibutuhkan untuk mengembangkan etnomedisin.