Kuliah Umum Menteri Luhut Binsar Panjaitan: “Kalau Mau Menjadi Bagian dari Negeri Ini, Kau Harus Belajar dan Punya Hati!”

JAKARTA-REPORTER Tak lama lagi Indonesia akan menghelat pesta demokrasi rakyat pada Pemilihan Presiden RI Periode 2019-2024. Sebelum menentukan pilihannya, rakyat harus diberi pendidikan politik yang berimbang dan memadai sehingga dia mampu untuk menentukan pilihannya secara sadar tanpa pengaruh atau tekanan apapun atau, bahkan lepas dari kepentingan-kepentingan tertentu.

Universitas Kristen Indonesia (UKI) sebagai institusi pendidikan yang sudah berusia 64 tahun dan sudah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa juga perlu berkontribusi dalam upaya mendukung pelaksanaan sistem demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, UKI, dalam hal ini Fakultas Hukum UKI berinisiasi menggelar kuliah umum dengan tema “Menimbang-nimbang Calon Pemimpin Bangsa pada Pemilihan Presiden RI Tahun 2019, Suatu Renungan dari Kampus UKI” pada Jumat, 10 November 2017, tepat saat peringatan Hari Pahlawan, di Auditorium Grha William Soeryadjaya, FK UKI, Cawang, dengan Pembicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Jend. (Purn). Luhut Binsar Panjaitan, M.P.A.

“Di tengah-tengah kesibukan Bapak Menko Maritim, kami minta maaf bahwa kami masih menyita waktunya sejenak untuk boleh berbagi informasi terbaru dan meskipun judul yang ada di depan ini boleh dikatakan provokatif, tetapi eye-catching untuk bisa menatap masa depan, terutama ketika bangsa kita di dalam masa-masa tahun yang lalu mengalami suasana panas karena perbedaan-perbedaan yang ada. Menatap ke depan tentu saja dengan melihat kinerja pemerintahan sekarang yang telah dapat memberikan bukti janji sebagiamana dicetuskan dalam kampanye masa lalu,” sambut Rektor UKI, Dr. Maruarar Siahaan, S.H., saat membuka Kuliah Umum.

Selain Rektor UKI hadir pula Ketua Yayasan UKI, Dipl. –ing. Salomo Panjaitan, Wakil Rektor I Bidang Akademik (Dr. Wilson Rajagukguk, M. Si., MA.), Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Hukum dan Kerja Sama (Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., M.B.A.), Para Pimpinan Fakultas, Alumni, Mahasiswa, dan tamu undangan.

Dimoderatori oleh Sidratahta Mukhtar, Menteri Luhut Panjaitan memaparkan bahan presentasinya yang berjudul “Pembangunan Kemaritiman untuk Pertumbuhan dan Pemerataan.” Dengan penuh semangat, Mantan Petinggi Kopassus TNI AD ini menjabarkan program-program kerja dari Kementerian Koordinator Kemaritiman RI yang sedang berjalan maupun yang sudah terealisasikan.

Salah satu program yang menjadi target Kemenkomaritim adalah pengembangan kawasan ekonomi khusus untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta menjadi Kawasan Terpadu bahkan menjadi Kawasan Industri Dunia. Program ini sudah diajukan kepada Presiden Joko Widodo, dan sedang dikaji lebih dalam. Alasannya agar lebih efisien, karena menurut KADIN, 60% kegiatan ekonomi ada di sini.

Program menarik lainnya dari Kemenkomaritim adalah pengembangan 10 (sepuluh) tujuan pariwisata di Indonesia.

“Sepuluh tourist destination sedang dikembangkan. Diharapkan tahun 2019 turis kita mencapai 20 juta dan penerimaan kita (dari sektor pariwisata) mencapai 20 Milyar USD. Bapak-Ibu sekalian, terus terang kami banyak menyelesaikan masalah-masalah masa lalu. Tidak bermaksud untuk membedakan dengan (pemerintahan) sekarang, contohnya Kasus Mandalika yang 29 tahun tidak selesai.” ungkap Menteri Luhut.

Pernyataan Menteri Luhut tersebut diperjelas lebih dalam oleh salah satu Staf Ahli Menteri. Perlu diketahui, Menteri Luhut Panjaitan membawa serta dan melibatkan beberapa staf ahlinya untuk menjelaskan lebih detail pekerjaan-pekerjaan yang mereka lakukan kepada para peserta kuliah umum, salah satu stafnya adalah Ibu Masita.

“Kasus tanah Mandalika mangkrak 29 tahun, namun di bawah kepemimpinan pemerintahan yang sekarang, jadi sekarang, banyak anak muda masuk ke pemerintahan, menurut saya karena kita sudah memasuki era pemerintahan yang baru, artinya pemerintahan yang sekarang itu target oriented, ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Untuk kasus tanah Mandalika sudah selesai dan langsung dibangun 7 (tujuh) hotel bintang 5 (lima) sebanyak hampir 5000 kamar. Jadi, bayangkan bagaimana itu berdampak kepada pertumbuhan,” tutur Ibu Masita.

Senada dengan Ibu Masita, Staf Ahli lainnya, yaitu Bapak Latif menuturkan bahwa turis merupakan penghasil devisa nomor 2 (dua) setelah kelapa sawit.

“Menurut data BPS, potensi kemaritiman kita dari 1,3 Triliun, itu 14% dari Bali. Ada potensi yang begitu besar. Hampir semua kabupaten meminta kepada pemerintah pusat, “Tolong bantu wisata kami,” hampir semua, artinya ada kesadaran dari Pemda sekarang. Kita punya potensi yang luar biasa. Kali ini kita bisa kembangkan, salah satu yang diminta dari pariwisata itu sederhana, yaitu jaga senyum dan jaga kebersihan, wisatawan tidak minta yang mewah yang penting kita senyum dan bersih,” kata Bapak Latif.

Kasus lain yang sudah diselesaikan adalah kasus Sampah Sumung, di mana air sampah (licit) sudah mencemari air tanah di Bali.

“Sampah ini isu yang unik karena sampah tidak ada ownership of the project, artinya sebenarnya menurut UU Sampah, sampah adalah tanggung jawab daerah, akan tetapi selama ini Pemda malu-malu untuk mengambil tanggung jawab itu, akhirnya pengelolaan sampah kurang modern. Di negara-negara lain sudah lebih recyle, reduce, waste to energy, kemudian sampah diubah menjadi minyak, sampah menjadi komoditi tas, dsb, di kita masih kurang, sampah menumpuk di TPA. Contohnya di Sumung, 22,4 Ha wilayah sampah itu sudah setinggi 25 meter. Sangat berbahaya. Kemudian air sampah atau air licit, kalau menyebar masuk ke air tanah, itu memengaruhi. Dan menurut penelitian, air tanah Bali sudah terpengaruhi oleh air licit itu. Kemudian di sekitar area Sumung ada hutan bakau, di pinggir pantai, itu bisa kita lihat bahwa hutan bakau sudah tercemar tapi belum terselesaikan,” tandas Masita.

Masita menerangkan, TPA Sumung sudah ada sejak 1980 dan sudah melewati beberapa periode pemerintahan, akan tetapi baru dapat diselesaikan pada era pemerintahan saat ini.

“Jadi yang membuat kami bangga bekerja di bawah pemerintahan ini adalah semangat untuk berkoordinasi sangat terlihat sekali. Contohnya untuk Kasus Sumung ini saja ada berapa pihak yang harus berkoordinasi. Ada 4 (empat) Pemda, dari Provinsi Bali, Dinas LHK masing-masing kabupaten, Provinsi Kementerian LHK Pusat, PU, Kementerian Maritim. Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan proyek ini,” jelas Masita.

Wanita berhijab ini pun menyemangati para mahasiswa yang hadir agar belajar dengan baik karena kita telah memasuki era Indonesia Baru.

“Jadi untuk adik-adik mahasiswa saya berpesan, kita harus belajar yang baik kerena kita sudah memasuki era Indonesia Baru jadi Indonesia yang lama, yang pertumbuhanya gitu-gitu saja sudah tidak musim sekarang, yang musim sekarang adalah pertumbuhan yang tinggi. Kalau bisa kita bisa kalahkan Tiongkok growth-nya. Yang bisa kita lakukan, saya sebagai anak muda di bawah Pak Luhut adalah kita berusaha bekerja sebaik-baiknya di bidang kita sambil terus belajar,” pungkasnya.

Menteri Luhut mengaku bangga dan bersyukur menjadi salah satu Menteri dalam Kabinet Presiden Joko Widodo, menurutnya tak banyak yang berubah dari sosok Joko Widodo yang ia kenal.

“Saya berteman dengan Presiden lebih dari 10 tahun, tidak ada yang berubah sampai hari ini, dia sembahyang sebagai Islam yang baik. Bedanya dulu dengan sekarang, dulu dia minta waktu untuk menghadap saya, sekarang saya yang minta waktu menghadap Beliau. Dulu beliau masih nunggu saya, sekarang saya yang mesti nunggu, dan itulah hidup. Saya bersyukur menjadi Pembantu Presiden karena saya lihat dia jujur melakukan pekerjaannya. Yang penting kejujuran itu. Saya belum melihat ada hal-hal aneh yang dilakukan presiden,” kata Menteri Luhut yang disambut dengan tepuk tangan peserta.

Terkait dengan siapa calon pendamping yang tepat untuk Presiden Jokowi di Pemilu yang akan datang, Menteri Luhut tak menyebutkan satu nama pasti dan membantah isu dirinya yang akan mencalonkan diri.

“Siapa calon beliau? Menurut saya pribadi yang kira-kira umurnya tidak beda jauh dengan Beliau, ke atas atau ke bawah. Saya pribadi tidak ada mimpi ke situ. Saya hanya merasa ingin memberikan pengabdian yang terbaik sampai selesai masa kerja saya tahun 2019,’ ungkap Menteri Luhut.

Di usia yang sudah terbilang lanjut dan telah memiliki banyak pengalaman, Menteri Luhut juga menitipkan pesan kepada anak muda untuk terus belajar dan bekerja dengan hati untuk membangun Indonesia.

“Dengan pengalaman saya yang segudang ini saya bisa membandingkan. Jadi, saya titip kepada adik-adik mahasiswa di sini, Kau belajar dengan baik. Kalau mau menjadi bagian dari negeri ini untuk membawa negeri ini bagus, kau belajar dan kau harus punya hati. Kalau hanya bekerja secara intlektual tidak bisa, percaya sama saya. Umur saya sudah lebih 70 tahun, saya sudah mengalami pahit getirnya hidup. Kalau kau kerja keras, kalau tekun belajar, kau pegang hati nuranimu paling dalam, orang akan takluk padamu. Kau jangan beda-bedakan siapa dia, kita jangan memisahkan suku karena team work penting!” Tegas Menteri Luhut Panjaitan.