Legislator Adian Napitupulu Menimba Pengalaman dan Pengetahuan dari Kampus UKI

Adian Napitupulu ialah alumni Fakultas Hukum UKI yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

“Dulu masuk kampus UKI tahun 1991. Ayah saya seorang Jaksa waktu itu dan dua abang saya sudah lebih dulu masuk ke Prodi yang sama. Saya melihat UKI sebagai salah satu universitas yang fakultasnya beragam dan saya punya banyak teman untuk dapat banyak pengetahuan. Saya mau tahu tentang ekonomi saya duduk dan ngobrol dengan teman-teman di situ,” jelas politisi kelahiran Manado ini.

Adian cukup lama menyelesaikan kuliahnya bukan karena ia malas, tapi situasi sosial politik saat itu yang dirasanya menghambat dia berkuliah. Semasa kuliah, Adian saat itu sering berpartisipasi untuk berbicara di lokasi mimbar bebas padahal ia tengah bersiap menyusun skripsi.

“Mahasiswa yang sering hadir di mimbar bebas, banyak yang ditangkap membuat saya merasa tidak aman untuk datang ke kampus. Bertahun-tahun saya tidak kuliah dan hutang biaya kuliah jadi banyak, sedangkan saya tidak punya uang untuk melunasi. Bersyukur akhirnya ada dua orang yang membantu melunasi biaya kuliah yaitu Dekan FH UKI saat itu, Hobbes Sinaga dan Maruli Gultom yang waktu itu menjadi ketua IKA UKI.  Saya pun mendaftar ulang dan berhasil menyelesaikan kuliah, “ ujar Adian Napitupulu.

Menurutnya banyak sekali pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan dari aktivitas pergerakan yang dilakukan saat itu. Mata Adian terbuka terhadap realitas sosial, politik, hukum,dan ekonomi yang mungkin jarang didapatkan di bangku kuliah formal.

Ilmu hukum yang dimiliki Adian bermanfaat bagi dirinya sebagai seorang legislator sehingga ia tidak kesulitan saat mempelajari dan memahami Undang- Undang berikut peraturan di bawahnya.

“Untuk menjadi berhasil, hanya ditentukan oleh 1% uang, 1% relasi, 1% nasib baik, 1% ijazah dan 96% kerja keras. Artinya kerja keras akan melatih kita untuk kuat, tahan banting, tidak mudah menyerah dan fokus pada tujuan. Menurut saya, hidup dan kehidupan tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang manja,” sarannya untuk mahasiswa UKI.

“Kerja keras membuat kita mau mencari jawaban dari persoalan-persoalan. Dan ketika kita punya banyak ide, pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kerja keras tadi membuat kita dibutuhkan orang-orang, termasuk negara,” tambah Adian.

Alumni FH UKI tahun 2007 ini menjelaskan ada banyak persoalan negara yang membutuhkan orang-orang kreatif yang bisa memberi jalan keluar dari persoalan. “Kira-kira begitu contoh kecil jika seseorang ingin mendapatkan hasil dari ilmu yang didapatnya,” saran dia. (ics)