“Melihat Indonesia dari Perbatasan”

JAKARTA-REPORTER Lembaga Pers Mahasiswa “GEMA”, dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) menyelenggarakan diskusi panel bertema “Jaya dan Bangun Indonesia: Melihat Indonesia dari Perbatasan” pada Kamis, 27 April 2017, bertempat di Ruang Seminar Lantai 3, Gedung AB, Kampus UKI Cawang.

Acara dibuka langsung oleh Dekan FH UKI, Hulman Panjaitan, S.H., M.H., yang sekaligus memberikan sambutan.

“Topik ini adalah topik yang sangat menarik dan bisa dilihat dari berbagai aspek. Kalau kita perhatikan, UKI sering melakukan kegiatan seperti seminar ilmiah dan diskusi panel yang berkaitan dengan NKRI. Adik-adik bisa menggali lebih dalam tentang masalah-maslaah yang dialami di daerah perbatasan dengan narasumber yang sangat expert di bidangnya,” kata Hulman.

Narasumber pertama adalah Ato Lose, Ketua dan Pendiri Komunitas Anak Negeri Indonesia (KANI), beliau memaparkan masalah-masalah yang sering terjadi di perbatasan, slaah satunya di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste.

“Di NTT, penyebab masalah perbatasan adalah masalah sosial. Sampai hari ini masih sering terjadi gesekan-gesekan atau konflik sosial karena proses terlepasnya Timor Leste tidak dipersiapkan secara matang, sehingga terjadi eksodus yang luar biasa dan akhirnya mereka membentuk kelompok masing-masing sehingga ada gap, konflik horizontal sering terjadi,” tutur Ato.

Sementara itu Drs. Lucky Hendarta, M. Si Kepala Bidang fasilitas pelaksanaan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) mengakui memang masih banyak masalah di daerah perbatasan sehingga pemerintah ingin terus memperkuat daerah-daerah dan desa. Kendala lainnya adalah, adanya perbedaan lintang bujur dan derajat dari wilayah bekas jajahan Belanda dan Inggris.

“Ada sembilan wilayah yang masih bermasalah, tapi tak ada putus-putusnya kami melakukan pendekatan agar masalah tersebut cepat diselesaikan,” ucap Lucky Hendarta.

Dosen Tetap FH UKI, Edward M. L. Panjaitan, SH., LL. M, yang juga menjadi salah satu narasumber pada diskusi ini membahas tentang kasus Ambalat (perbatasan Indonesia-Malaysia) sebagai salah satu contoh konflik di daerah perbatasan. Beliau juga memberikan teori bagaimana mengatasi permasalahan tersebut, seperti Pemberdayaan ekonomi masyarakat dan lokasi; Peningkatan Kualitas SDM; Penguatan rasa nasionalisme; dan Peningkatan pengamanan dan pengawasan.

(jeh/lis