Mengenal Dunia Penerbitan

Jakarta – Fakultas Sastra dan Bahasa, Program Studi Sastra Inggris Universitas Kristen Indonesia mempersembahkan webinar “Mengenal Dunia Penerbitan” pada sabtu (20/11/2021) dengan menghadirkan  para narasumber, Devina Mariskova (Penulis) dan Donna Widjajanto (Penyunting). Turut hadir dalam kegiatan ini Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa UKI, Susanne A. H. Sitohang, S.S., M.A.

Donna Widjajanto memaparkan membaca, menulis, dan menyunting menjadi hal paling dasar di dunia penerbitan. Tiga kegiatan tersebut juga memiliki keterkaitan yang sangat penting untuk kedepannya. “Dengan membaca kita jadi lebih banyak mengetahui informasi, apalagi di era digital seperti sekarang, kita dipaksa untuk lebih banyak membaca informasi-informasi yang ada. Membaca juga memiliki tingkatan, seperti membaca tingkat dasar, dilanjut dengan membaca cepat, membaca analitis, dan membaca sintopikal. Dari membaca kita bisa mendapat ide atau insprirasi untuk menulis sebuah karya,” ujarnya.

Demikian pun dengan menulis, bisa menjadi sebuah kegiatan untuk mengekspresikan diri. “Sifat tulisan juga beragam. Ada pribadi tertutup, biasanya berisi curhatan yang ditulis untuk disimpan sendiri seperti diary. Selanjutnya ada pribadi terbuka, orang-orang yang menulis sebuah postingan di media sosial berarti telah menulis dengan sifat pribadi terbuka. Lalu ada juga publik terbatas dan publik tanpa batas. Menulis juga memiliki beragam tujuan. Beberapa orang menulis ekspresi diri dan menjadikannya sebuah karya yang bisa diterbitkan. Fondasi penting sebelum membuat suatu karya adalah gagasan,” tutur Donna yang sudah menulis 30 buku dan menerjemahkan 30 buku.

Dunia penerbitan merupakan lapangan yang sangat luas bagi lulusan Sastra dan Bahasa. “Kalau nggak ada naskah nggak ada yang diterbitkan. Naskah itu diciptakan dan di cari.  Penerbit itu bekerjasama dengan pengarang, juga dengan penerjemah,” ujarnya.

“Banyak penerbit membuka diri untuk pengarang untuk kirim naskah. Pengarang mengirimkan naskah yang jadi, kepada penerbit untuk kemudian dinilai, dilihat kelayakannya bisa terbit atau tidak. Ada juga pengarang menawarkan ide,” urainya.

“Sedangkan untuk  Indonesia sendiri kata Donna, agen penerbitan itu masih sangat sedikit jadi hubungannya masih langsung pengarang dan penerbit. Di Indonesia sendiri ada agen terjemahan antara lain Borobudur agency. Borobudur agency ini menjual hak naskah Indonesia pada penerbit di luar negeri. Sudah mulai banyak naskah lokal terjual,” ujarnya.

Untuk membentuk naskah kata Donna Widjajanto ada empat yang harus diperhatikan yakni,  Ide, pra penulisan, penulisan, revisi dan editing lalu naskah jadi.

Dijelaskan Donna, naskah itu di peroleh dari pengarang dan penerbit. Pengarang itu biasanya membentuk naskah tentu saja diawali dengan ide. Ide itu bisa dari mana saja, setelah itu dikembangkan dengan pra penulisan.  Dalam penulisan kerangka dan timeline itu menjadi penting untuk diikuti. 

“Sebagai pekerja freelance kalau saya tidak punya timeline dan tidak punya kerangka tulisan akan kacau balau dan akhirnya target tidak tercapai. Setelah itu ada revisi dan editing. Editing itu sangat penting mengoreksi tulisan kembali bila ada bahasa yang kaku dan aneh. Setelah itu baru direvisi sebelum diserahkan ke penerbit. Semua sudah naskah jadi bila sudah puas dengan itu bisa diserahkan kepada penerbit,” ungkapnya.

Disisi lain Donna menjelaskan,  bagaimana penterjemah menghidupkan naskah yang dialihbahasakan. Katanya, peterjemah harus mengetahui bahasa sumber dengan bahasa tujuan dengan baik termasuk jargon-jargonnya. Mengenal budaya sumber dan budaya tujuan. Mengenal waktu penulisan naskah asal. Tekun dan teliti mencari tahu dan membaca contoh contoh terjemahan yang baik.

“Sedangkan untuk proses terakhir Editing dan revisi, layout isi dan cover, pracetak, cetak distribusi dan marketing lalu distribusi,” ucapnya.

“Mengatur segala hal menyangkut naskah sendiri (editing, layout, cover), punya modal cetak, memasarkan dan mempromisikan sendiri, tidak kena antrian penerbit, dan tidak perlu mengikuti tren atau aturan penerbit,” kata Donna .

Sementara itu Devina Mariskova Penulis yang juga  bekerja di Gramedia Pustaka 2013, bekerja di majalah Femina, penulis Novel 2008. To Tokyo To love dan masih banyak lagi, mengatakan, menulis itu berproses, tapi hasilnya juga sangat memuaskan. Sebenarnya bagaimana cara proses menulis naskah.  Menurutnya ada ada 10  yang perlu diperhatikan yakni, mencari ide (membaca, menulis, traveling), mengumpulkan ide ( jurnal, rekaman suara, foto), menyeleksi ide, menulis draf, membaca ulang dan mengedit, mengedit lagi, meminta review dari teman, mengedit lagi, mengedit terakhir dan mengirim naskah final.

“Bagaimana proses menawarkan naskah ke penerbit, pada dasar etikanya bila ingin memasukan naskah atau kesuatu penerbit disaat yang sama kita tidak boleh memasukan naskah yang utama ke penerbit yang lain. Sampai ada penolakan,” terangnya.(*)