Menko Maritim RI, Jend TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, M.P.A : Peluang dan Tantangan pada Era Revolusi Industri 4.0

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia,  Jend TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, MPA, menghadiri acara Jumpa Tokoh dan Bincang Ringan yang digelar Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia yang bekerjasama dengan HKBP Kernolong. Acara digelar di Auditorium Graha William Soerdjaya, Kampus UKI Cawang (27/08).

Di hari ulang tahun HKBP ini, Luhut Binsar Pandjiatan mengingatkan bahwa Gereja memiliki peran penting dalam memperkokoh ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa yang muncul dari radikalisme dan separatisme serta penyebaran narkoba di kalangan generasi muda.

“Stabilitas Polhukam adalah prasyarat penting dalam menarik investasi untuk pengembangan industrialisasi di Indonesia. DPR sebagai lembaga legislatif negara memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan negara untuk menciptakan stabilitas polhukam dan menghadapi ancaman disintegrasi bangsa. Pancasila dan NKRI adalah pilar utama negara, “ tegas mantan Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia ini.

Perekonomian Indonesia Masih Mampu Tumbuh diatas 5%

Pengembangan SDM menjadi fundamental dalam menjawab Revolusi Industri 4.0. Pemerintah berkomitmen mengalokasikan 20% dari APBN untuk anggaran pendidikan. Fokus belanja Pemerintah 2019 adalah peningkatan kualitas SDM berdaya saing ekonomi dan perlindungan penduduk miskin.

Luhut Binsar Pandjaitan turut menjelaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dalam menghadapi eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok. Perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh diatas 5%, inflasi terkendali dan angka kemiskinan serta Gini Ratio yang terus menurun.

“Indonesia memiliki kapasitas untuk menutup gap impor Amerika Serikat dari Tiongkok. Indonesia harus berfokus pada sektor industri elektronika, mesin, tekstil, furnitur, consumer goods, mainan dan perlengkapan olahraga, peralatan rumah tangga dan alas kaki, “ terang alumni Akademi Militer ini.

Namun, pemerintah tetap waspada dan telah menyiapkan langkah-langkah taktis jika perekonomian global memburuk. Salah satunya adalah menarik investasi guna mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia.

“Contohnya adalah hilirisasi nikel menjadi stainless steel dan komponen lithium battery. Pengolahan bijih nikel ke stainless steel slab memberikan nilai tambah secara signifikan. Semakin tinggi nilai tambah maka semakin tinggi pajak dan pendapatan daerah yang diperoleh. Upaya peningkatan nilai tambah ini akan diperluas kepada CPO, karet, bauksit dan batubara, “ jelas Luhut Panjaitan menutup Jumpa Tokoh dan Bincang Ringan di Universitas Kristen Indonesia.