Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, Ingatkan Pancasila sebagai Pedoman Bernegara di hadapan Sivitas Akademika UKI

Pusat Studi Lintas Agama dan Budaya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UKI menggelar Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Indonesia melalui Identitas Kemajemukan Berdasarkan Pancasila” dengan mengundang 2 keynote speakers, yakni, Dr. Ahmad Basarah, M.H (Wakil Ketua MPR RI) dan Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI). Acara dibuka oleh Tarian Sumba Woleka oleh Mahasiswa Asrama UKI.

Acara yang diselenggarakan pada Kamis, 22 November 2018, di Auditorium Grha William Soeryadjaya, Gedung FK UKI, Cawang, juga menghadirkan narasumber ahli seperti, Benny Susetyo Pr. (Anggota Dewan Pengarah UKP-PIP), Prof. DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU (Dosen Universitas Presiden, Menteri Riset dan Teknologi Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid), Zeva Aulia Sudana, M.Sc dan Biondi Sanda Sima, M.Sc (Co-chair Indonesia Youth Diplomacy).

Lukman Hakim Saifuddin menekankan, “Bangsa Indonesia memiliki Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pedoman dalam bernegara. Kita merajut persaudaraan dalam perbedaan suku bangsa, bahasa dan latar belakang daerah. Bangsa Indonesia ialah bangsa yang mengawali dan mengakhiri proses aktivitas berbangsa dan bernegara dengan nilai agama.”

Politisi Partai Persatuan Pembangunan ini mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya Sumber Daya Alam (SDA) yang mampu mencukupi kebutuhan warganya yang majemuk. Namun ada dua ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yaitu era globalisasi yang memungkinkan setiap bangsa dibelahan manapun saling berhubungan. Ancaman kedua ialah disrupsi teknologi dengan sistem digital yang mengubah pola kerja.

Menteri Agama menekankan untuk menerapkan strategi kebudayaan untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Budaya religi sebagai sektor pengembangan ekonomi. Contohnya adalah pariwisata religi dimana ada banyak objek religi yang dikembangkan secara serius.

Keynote speaker kedua ialah Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, mengingatkan masyarakat Indonesia tidak terpecah belah menjelang Pemilu di tahun 2019. Politik persatuan haruslah dikedepankan. Kesadaran untuk tidak mau dipecah belah harus menjadi kesadaran bersama.

“UKI merupakan kampus yang mengobarkan semangat kebangsaan mengedepankan semangat kristiani dan ke Indonesiaan. Perguruan tinggi mengembangkan sistem pendidikan yang berdasarkan Pancasila. Pelembagaan Pancasila harus mulai dari dunia pendidikan. Bagi mahasiswa dan pelajar perlu adanya penguatan ideologi Pancasila, “ tambah alumni Magister Ilmu Hukum UKI ini.

Menurut Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, “Penelitian lembaga survey LIPI menyebutkan bahwa salah satu faktor munculnya intoleransi pikiran, perilaku dan tindak radikalisme, bunuh diri adalah faktor politik. Isu suku dan agama dijadikan sebagai komoditas politik. Toleransi beragama dipotret oleh lembaga survey dan telah terjadi persoalan serius di tengah masyarakat.”

Selanjutnya Prof. DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU turut menjelaskan, “Salah satu instrumen penting membangun budaya toleransi adalah melalui pendidikan multikultural. Lembaga pendidikan formal, informal dan non formal diharapkan mengembangkan metode pendidikan multicultural disesuaikan konteks  lingkungan masing-masing. Pendekatan penguatan nasionalisme menjadi salah satu cara mengatasi ancaman intoleransi dan radikalisme.”

Dengan bekerjasama dengan Program Studi Pendidikan Agama Kristen dan Program Studi Magister Agama Kristen UKI, seminar ini meneguhkan kembali identitas kemajemukan berdasarkan Pancasilan sebagai perekat dalam NKRI. Serta membangun jejaring lintas agama dan budaya untuk menjaga kemajemukan.

Seminar dihadiri Rektor UKI, Dr. Dhaniswara K. Harjono, SH. MH. MBA beserta jajarannya, Kepala Pusat Studi Lintas Agama dan Budaya UKI, Dr. Wahyu A. Rini, M.A, M.Pd.K, pemakalah dan dosen Prodi Pendidikan Agama Kristen dan mahasiswa UKI. Selain itu turut hadir mahasiswa dari berbagai universitas seperti UI, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Pertahanan, Universitas Mercubuana.