“Menteri Susi Pudjiastuti: Indonesia Bisa Jadi Poros Maritim Dunia”

JAKARTA-REPORTER Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang dikenal kontroversial dengan berbagai kebijakan dan pembawaannya, berkunjung ke Kampus Kasih Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang (8/9). Kedatangannya ke UKI dalam rangka menjadi pembicara dalam acara Seminar bertema “Pentingnya Pengamanan Perikanan Laut Indonesia” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi UKI dan Panitia Dies Natalis UKI Ke-64.

Kedatangan Menteri Susi disambut meriah oleh tari-tarian Papua yang dibawakan oleh beberapa mahasiswa UKI didampingi seluruh Sivitas Akademisi UKI, seperti Pimpinan Rektorat, Pimpinan Fakultas beserta jajarannya, dosen, staf, serta mahasiswa/i UKI.

Dekan Fakultas Ekonomi UKI, Dr. Suzanna Josephine L. Tobing, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta menyampaikan dukungannya kepada Menteri Susi Pudjiastuti.

“Kami sangat bersyukur hari ini atas kedatangan Ibu Menteri Susi Pudjiastuti. Kami sangat berterima kasih atas respon yang luar biasa mau hadir di UKI ini. Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia menilai bahwa kebijakan Menteri Susi Pudjiastuti merupakan perpaduan antara pertahanan dan kemakmuran, di mana keduanya dilakukan secara seiring. Kebijakan baru yang tidak berorientasi masa lalu ini membuat kebijakan susi menjadi kontroversi di jamannya. UKI berdiri di belakang ibu susi untuk mendukung berbagai kebijakannya,” kata Dekan.

Pernyataan Dekan juga didukung oleh Rektor UKI, Dr. Marurar Siahaan, S.H., ketika memberikan sambutan.

“Saya hari ini sangat bahagia sekali Ibu Menteri, karena kehadiran Ibu di tempat ini. Harapan kita (seminar) ini menjadi inspirasi bagi generasi muda ke depan. Kalau misalnya Ibu Josepine bilang Ibu Susi fenomenal, saya kira kita juga telah melihat bagaimana dahysatnya Ibu Susi melalui youtube di forum internasional dalam bahasa inggris, it’s really amazing. Oleh karena itu, saya kira hari ini floor Ibu Susi saja lah, kita hanya mengucapkan selamat datang dan terima kasih telah berkenan datang ke UKI,” ujar Dr. Maruarar Siahaan, S.H.

Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Posma Hutasoit, S.E., M. Si, Kaprodi Manajemen FE UKI. Beliau mengundang Menteri Susi untuk menyampaikan pidatonya di podium. Dengan semangat dan tetap santai, Menteri Susi berbicara dihadapan ribuan mahasiswa/i UKI.

Disebut-sebut sebagai sosok Menteri fenomenal dan superstar, dengan rendah hati Menteri Susi menganggap dirinya hanya menjalankan kewajibannya untuk rakyat dan negara Indonesia.

“Saya cuma anak bangsa seperti Bapak/Ibu semua dan adik-adik yang mencoba memberikan kontribusi maksimum at based I can untuk negara dan total komitmen, dan tentu saja dengan semua mimpi dan keinginan Indonesia ini menjadi a better Indonesia. Jadi, bukan cita-cita saya atau tujuan to be superstar, apalagi yang persoalan jadi superstar dalam jabatan seorang menteri itu tidak ada benefit apa-apa juga, gajinya tetap sama, kalau Menteri lain duduk nyaman nggak ada yang ganggu. Kalau saya, sebentar-sebentar, “Bu foto, Bu selfie”,” ujar Menteri Susi yang disambut tawa oleh peserta.

Sejak dipilih menjadi salah satu menteri di Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menteri Susi sudah memunculkan berbagai kontroversi, terutama di kalangan akademisi, karena beliau hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Pada saat saya diangkat menjadi Menteri, dibilang kurang dianggap, lulusan SMP/SMA kelas 2 bisa jadi menteri itu saya pikir sebuah keajaiban. Jadi, jangan berpikir kalau tidak sekolah bisa jadi seperti Ibu Susi. Tidak! Itu opportunity a million one. Adik-adik kalau berharap seperti itu harus cari Presiden seperti Pak Jokowi Lagi, yang punya keberanian memilih seorang lulusan SMP untuk menjabat menjadi Menteri dengan portofolio paling besar, karena laut Indonesia itu lebih luas dari pada daratannya,” tuturnya.

Tak hanya karena latar belakang pendidikannya yang rendah, berbagai kebijakan-kebijakan Susi menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

“Belakangan, begitu muncul policy-policy Susi lebih banyak lagi yg marah. Jadi, saya pikir Pak Presiden ini luar biasa dan Beliau betul-betul ingin membangun Indonesia terutama sesuai dengan misinya pemerintah, Laut Masa Depan Bangsa, dan Indonesia harus menjadi Poros Maritim Dunia,” tutur Menteri Susi.

Misi pemerintah tersebut menurut Susi bukan hal yang mustahil, letak geografis Indonesia dan kekayaan maritimnya yang sangat menguntungkan jika diolah sebaik mungkin mampu membawa Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia.

“Poros itu bukan hanya sekedar titik, poros itu adalah sebuah titik tolak yang menjadi titik menolak, menggerakan, tolakan itu adalah sebuah gerakan ke luar, mengembangkan, berarti kita memang harus menjadi Center of Gravity dari perputaran ekonomi kemaritiman di dunia. Secara peta, kalau kita lihat peta Indonesia, semua logistik dari utara ke selatan, barat ke timut, harus lewat perairan Indonesia. Jadi sebetulnya, misinya pemerintah itu bukan misi yg impossible atau irrasional, tapi it’s very logic karena semua harus lewat negara kita. Jadi, memang Indonesia ini sudah saatnya menjadi titik tolak ekonomi kemaritiman dunia,” tambahnya.

Satu per satu persoalan di dalam Kementerian Kelautan dan Perikanan dipelajari dan diselesaikan oleh Menteri Susi, khususnya untuk menjaga pertahanan perairan Indonesia. Berbekal pengalaman menjadi pedagang ikan, eksportir ikan, dan mendirikan PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air), Menteri Susi menemukan fakta-fakta mengejutkan di lapangan. Berdasarkan sensus tahun 2003-2013, jumlah rumah tangga nelayan turun dari 1,6 juta tersisa 800 ribu, 115 perusahaan/eksportir ikan gulung tikar, 39% anak Indonesia tumbuh kerdil (stunting) karena kurang gizi, dan ada izin keluar untuk kapal-kapal ikan asing yang beroperasi di wilayah Indonesia sekitar 1300, tapi praktik di lapangan lebih dari 10 kalinya.

“Jadi izinnya 1 kapal, 10 catnya sama, warnanya, nomornya sama, namanya sama, itu yang terjadi. 99% kapal asing itu milik asing semua, bahkan saya pikir 100%. Cara beresinnya gimana? Saya bilang, kalau mau mengembalikan laut menjadi masa depan bangsa, ya, kita mesti berdaulat dulu,” tegas Susi.

Berpegang pada UU Perikanan No. 45 Tahun 2009, di mana pemerintah bisa menenggelamkan kapal asing yang menangkap ikan secara ilegal di laut Indonesia, Menteri Susi mengusulkan eksekusi tersebut kepada Presiden jokowi.

“Kita mau menyalahkan siapa? tidak ada yang harus disalahkan. Kita mau memperbaiki ke depan, itu intinya, dan saya sampaikan ini ke Pak Presiden. Jadi, saya bilang kita eksekusi ini saja dan kita memudahkan kepada semua aparat kita bahwa aturan main ke depan adalah seperti ini, selesai. Kita tidak buka ke belakang, kita tidak mau korek apa kesalahan-kesalahan kita, tidak punya waktu lagi, globalisasi is so fast. Kita tidak bisa berpikir untuk menyelesaikan masa lalu saja tanpa moving on ke depan, jadi saya usulkan ini dan Presiden setuju,” terang Menteri Susi.

Menteri Susi pun menunjukkan kemajuan-kemajuan yang berhasil dilakukan Oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI di bawah kepemimpinannya.

“Kita galakkan Kampanye Makan Ikan, dan ternyata pemerintahan sekarang ini berhasil meningkatkan dari 36 Kg jadi 43 Kg konsumsi makan ikan anak-anak Indonesia. 7 Kg peningkatannya. Peningkatan ini dibarengi penurunan impor hampir 70%, ekspor naik 10%. Darimana ikannya? Ya, dari tangkapan yang naik. Kenapa bisa? karena hasil ikannya banyak, karena 10 ribu lebih kapal ikan berhenti. Nah, kalau kita tidak melakukan penenggelaman, kapal asing ini pasti akan tetap berkeliaran,” tandas Susi.

Tak hanya konsumsi dan ekspor ikan yang naik, Menteri Susi menyampaikan berita terbaru bahwa neraca perdagangan ikan Indonesia yang tadinya selalu nomor bontot (terakhir), untuk pertama kalinya berada di posisi nomor satu di Asia Tenggara. GDP Perikanan pun naik dari 7 menjadi 8, padahal GDP Nasional saat itu sedang turun.

“Jadi, GDP Perikanan naik dari 7 koma sekian jadi 8, padahal nasional turun bahkan harga ikan itu satu-satunya komoditi yang dari awal Saya jadi menteri, itu mengontribusikan kepada deflasi. Jadi, bagus karena harga ikan turun, ekspor naik, impor turun , konsumsi ikan naik. itu Big Buisness,” katanya Bangga.

Bukti keseriusan pemerintah lainnya dibuktikan dengan terbitanya Perpres No. 44 Tahun 2016 oleh Presiden Jokowi. Menteri Susi berharap agar Perpres tersebut tidak direvisi.

“Beliau terbitkan Pepres No. 44, yang menutup perikanan tangkap untuk investasi asing. Saya berharap jangan pernah itu direvisi. Saya titipkan, jabatan menteri bisa replaced anytime. At the most, kalau saya terus dipakai 5 tahun, mean another two years, Perpres 44 ini adalah yang dengan berani Pak Jokowi tandatangani di era globalisasi yang arahnya justru semua di divestasi-divestasi kedua. Beliau sangat berani menjaga itu. Saya pesankan, saya titipkan jangan sampai perpress 44 yang menutup terbatas perikanan tangkap untuk asing ini direvisi. Ini yang harus dijaga, dan Akademisi harus menjadi motor utama,” pesan Susi Pudjiastuti.

Di akhir pidatonya, Menteri Susi berpesan kepada para peserta, khususnya generasi muda agar menjaga dan mencintai laut Indonesia.

“Berbaktilah di daerah masing-masing, kembangkan pariwisata perikanan, wisata bahari, dan lainnya. 71 % planet kita adalah laut, jadi kalau kita tidak mencintai laut, ya, sayang, Indonesia akan maju jika kita bisa mengelola lautnya dengan benar. Kalau tidak benar, Indonesia tidak akan kemana-mana karena kita disatukan dan dihubungkan dengan dunia luar dengan laut. Jadi, cinta laut itu akan memberikan kita sportivitas yang tinggi, matahari juga banyak di laut. Hidup lebih sehat, kalau di Jakarta, cari langit biru saja susah, tapi kalau di pinggir pantai kita lihat langit biru, segar, dan ikan itu makanan yang sangat sehat, tidak ada yang lebih baik dari ikan. Kalau tidak makan ikan, ya, saya tenggelamkan, itu saja!” Cetus Menteri Susi, yang dijawab dengan sorakan dan tepuk tangan peserta seminar yang tertawa mendengar jargon fenomenal tersebut.

(jeh/lis)