“Pajak Bertutur” Serentak di UKI dan se-Indonesia

JAKARTA-REPORTER Denyut nadi pembangunan di Indonesia bersumber dari APBN yang sebagian besar (±76%) di topang dari penerimaan pajak, tetapi kesadaran masyarakat Indonesia sebagai wajib pajak masih terbilang rendah. Berdasarkan hal tersebut, maka pada Jumat, 11 Agustus 2017, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI melaksanakan kegiatan “Pajak Bertutur” yang merupakan kegiatan edukasi pajak bagi masyarakat Indonesia. Event besar tersebut dilakukan secara serentak serta diresmikan langsung oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, S.E., M. Sc., Ph.D di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta.

Melalui kegiatan ini Ditjen Pajak berhasil memecahkan Rekor Museum Republik Indonesia (MURI) atas rekor memberikan Edukasi Pajak Bertutur secara serentak kepada 127.459 siswa di 2.182 sekolah mulai SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi se-Nusantara, yang dimulai tepat pukul 14.00 WIB. Universitas Kristen Indonesia (UKI) turut mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Perguruan Tinggi yang mendapatkan edukasi Gerakan Sadar Pajak, Pajak Bertutur, bertempat di Ruang Seminar UKI, Lantai 3, Cawang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian acara perayaan Dies Natalis Fakultas Ekonomi UKI yang ke-64.

Sambutan pertama disampaikan oleh Dekan FE UKI, Dr. Josephine Tobing, S.E., MS.

“Melalui sosialisasi pajak kepada mahasiswa dan masyarakat akan terbangun penguatan karakter, di mana diharapkan kita bisa sadar pajak, karena negara ini hanya bisa dibangun pada saat semua orang sadar harus membayar pajak, memang itu nilai-nilai yang harus dibangun. Kami sangat bersyukur Ditjen Pajak mencoba mencerahkan anak bangsa melalui pajak mulai sejak dini. Bersyukur UKI terpilih untuk melaksanakan kegiatan ini. Harapan kita, kita tetap semangat mengikuti acara ini karena banyak hal yang ingin kita sharing,” kata Dr. Josephine.

Seminar secara resmi dibuka dan disambut langsung oleh Wakil Rektor I bidang Akademik, Dr. Wilson Rajagukguk, M. Si., MA., dalam sambutannya beliau menuturkan bahwa membayar pajak juga menjadi salah satu perintah Tuhan Yesus Kristus.

“Pembayaran pajak itu disetujui oleh Tuhan kita Yesus Kristus ketika ada orang menjebak beliau dengan ucapan perlu atau tidak bayar pajak, beliau menjawab perlu membayar pajak kepada kaisar, juga berilah persembahanmu kepada Tuhan,” tutur Warek.

Dr. Wilson menambahkan, sebagai orang yang menikmati pembangunan, membayar pajak merupakan kewajiban kita.

“Adalah sebuah kewajiban warga negara untuk membayarkan pajak karena kita bersama-sama menikmati pembangunan di negara di mana kita hidup. Kita bersyukur pemerintah kita pada hari ini melalui para sahabat dari Ditjen Pajak datang ke tempat ini untuk menjelaskan bagaimana metode dan menjelaskan hak-hak kita sebagai warga negara yang membayar pajak,” terangnya.

Kepala Kanwil Ditjen Pajak Jakarta Timur, Harta Indra Tarigan, S.E.ak., MBA., mengaku bangga dapat bekerja sama dengan UKI.

“Kami juga bangga dapat bekerja sama dengan UKI, untuk bisa kami hadir, terutama dalam kerja sama tentang perpajakan. Di sini (FE UKI) ternyata juga ada Tax Center. Pada kesempatan ini, dengan kerja sama Ibu Dekan, kita bisa menyelenggarakan acara ini, tentu dengan tema “Pajak Bertutur”. Sebenarnya kata “bertutur” sudah tidak asing, dalam Pajak Bertutur, ini suatu yang baru, tetapi juga bukan hal yang aneh karena bertutur ini sebenarnya adalah untuk memperkenalkan dulu,” kata Harta.

Beliau juga menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan nasional dari Ditjen Pajak, yang serentak diselenggarakan di 34 Provinsi Indonesia.

“Jadi pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak UKI, atas kerja sama dan kesediaannya untuk kita tetap menyelenggarakan Pajak Bertutur ini. Kegiatan ini dilaksanakan secara nasional dengan harapan ada 2000 sekolah di seluruh Indonesia, di 34 provinsi, baik tingkat SD hingga Perguruan Tinggi, dengan harapan ada sekitar 120 ribu siswa/mahasiswa yang terlibat, dilaksanakan serentak hari ini. Pukul 14.00 siang ini adalah launching-nya oleh Ibu Menteri kami. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kepedulian atau kesadaran akan perpajakan,” jelas Harta.

Seminar ini dipandu oleh moderator, Dr. Posma Sariguna J.K. Hutasoit, S.E., M.Si., M.SE., Kaprodi Manajemen FE UKI. Beliau mengundang tiga narasumber, yakni Liberti Pandiangan, SE., M.Si. (Kepala Bidang P2 Humas Kanwil DJP Jakarta Timur), Harta Indra Tarigan, S.E.ak., MBA., dan Dr. Josephine Tobing, S.E., MS.,

Liberti Pandiangan, S.E., M. Si., dengan semangat memaparkan materi tentang perpajakan, seperti pentingnya membayar pajak sebagai sumber pembiayaan negara, pengaruh pajak bagi negara, pajak sebagai perwujudan IPOLEKSOSBUDHANKAM, dan lain-lain.

“Negara membutuhkan dana untuk dapat memutar roda pemerintahan. Dana ini harus dikelola negara, dan dalam tahun ini sebanyak Rp. 2080 Triliun yang dibutuhkan rakyat. Ternyata, sebelum kita membayar pajak, kita sudah memanfaatkan dana pajak. Contohnya jalan raya. Nah, itulah manfaat pajak yang terlihat dari pengertian pajak itu sendiri,” ujar Liberti.

Liberti menjelaskan, dalam lima tahun terakhir, target pajak tidak tercapai salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Ada 30,08 juta Wajib Pajak yang terdaftar; 12,7 juta Wajib Pajak yang lapor, namun hanya 1,55 juta Wajib Pajak yang membayar. Oleh karena itu, Gerakan Sadar Pajak menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menyadarkan para Wajib Pajak membayarkan kewajibannya.

Pajak merupakan satu-satunya penerimaan negara yang minim risiko serta dapat meningkatkan kemandirian bangsa dibandingkan dengan pinjaman luar negeri maupun dalam negeri, atau dengan menjual sumber daya alam kita. Hal ini pun diserukan oleh Liberti Pandiangan.

“Pajak merupakan sumber yang paling aman untuk sebuah negara. Semakin banyak membayar pajak, semakin aman negara kita,” tandas Liberti.

Diharapkan dengan sosialisasi pajak kepada masyarakat sejak dini, kelak masyarakat dapat semakin sadar akan pentingnya membayar pajak untuk masa depan Indonesia yang gemilang.

(jeh/lis)