Pelayanan Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan Nasional

Dalam rangka Dies Natalis ke- 55 tahun, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia menyelenggarakan seminar Pelayanan Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan Nasional di Ruang Auditorium GWS FK UKI, pada tanggal 9 Desember 2017. 
Dr. Sudung Nainggolan, MHSc sebagai koordinator seminar mengatakan alumni FK UKI tersebar melayani masyarakat di seluruh Indonesia. Dosen FK UKI harus meningkatkan kemampuan dan keterampilan di era Jaminan Kesehatan Nasional. Seminar dihadiri oleh Dekan FK UKI, Dokter Marwito Wiyanto, M.Biomed, AIFM dan Ketua Penyelenggara Dies Natalis, dr. Batara Imanuel Sirait, Sp. OG.
Pembicara pertama dalam seminar ialah dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, MM, MHKes. Mantan dekan FK UKI ini menjelaskan fondasi keselamatan pasien di rumah sakit dengan konsep patient centered care atau asuhan berfokus pasien. Patient centered care (asuhan berfokus pasien) merupakan konsep asuhan pasien yang mengoptimalkan peningkatan mutu dan hasil asuhan serta keselamatan pasien.
Beberapa elemen pokok untuk keberhasilan rumah sakit menerapkan asuhan berfokus pasien adalah komitmen yang kuat dari kepemimpinan senior rumah sakit, komunikasi yang jelas tentang visi strategis, keikutsertaan aktif dengan pasien dan keluarga di rumah sakit, fokus kepada kepuasan staf, dan penilaian secara aktif dalam pelaporan pengalaman pasien.
Ketua Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit ini menjelaskan Profesional Pemberi Asuhan merupakan tim interdisiplin dengan kolaborasi interprofesional. Pemberi asuhan harus mendengarkan, menghormati pilihan pasien, mengkomunikasikan informasi kepada pasien. Pasien dan keluarga didorong untuk berpartisipasi dalam asuhan dan pengambilan keputusan mereka. Pelayanan kesehatan bekerjasama dengan pasien dan keluarga untuk mengevaluasi kebijakan dan program.
“Beberapa hambatan asuhan berfokus pasien  adalah sikap pasien yang pasif, pasien yang tidak memiliki cukup informasi, kurangnya pelatihan kepada dokter , dokter yang tidak terlatih menangkap ekspresi pasien, rumah sakit yang tidak melakukan perubahan, “ungkap Konsultan Nefrologi di Indonesia ini.
Dokter Dominggus M. Efruan MARS menjelaskan Fraud dalam pelaksanaan JKN adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja oleh peserta, petugas BPJS Kesehatan, pemberi pelayanan kesehatan, serta penyedia obat dan alat kesehatan untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program jaminan kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan.
“Kita perlu sadar fraud karena terbukti menimbulkan kerugian finansial negara, daerah tertentu tidak menyerap dana JKN, dana diserap dengan cara yang tidak pantas. Fraud terjadi di setiap stakeholder , dan melanggar hukum. Cara mencegah kecurangan adalah menyusun kebijakan dan pedoman substansi, pengembangan budaya organisasi serta pengembangan tata kelola organisasi dan klinis,  “ ungkap Direktur RS UKI ini.
Dokter Yanuar Jar, SpOG, MARS, PhD mengatakan di era Jaminan Kesehatan Nasional, rumah sakit swasta berpeluang memberi pelayanan yang ringkas, hemat waktu dan hemat biaya. Dengan sistem yang non birokratif dan memiliki fleksibilitas , sesama rumah sakit swasta berpeluang bekerjasama.
“Rumah sakit swasta harus membentuk jaringan dan aliansi strategis untuk kepentingan bersama, pelayanan efektif, efisien dan optimal, dan ada peluang PPP (Public Private Partnership). Bentuk kerjasama PPP adalah membangun rumah sakit di lahan pemerintah, membangun unit perawatan di rumah sakit publik, membangun unit diagnostic di rumah sakit publik, leasing alat kesehatan, mengadakan sarana apotik di rumah sakit publik,” ungkap lulusan FK UKI angkatan 1984 ini.
Direktur RSIA Bunda Aliyah Jakarta ini mengatakan besar kecil pendapatan rumah sakit sangat tergantung pada koder. Koder yang baik akan menghasilkan klaim yang baik. Kompetensi koder harus ditingkatkan, memperbaharui regulasi, dan melakukan komunikasi yang baik dengan DPJP dan verifikator BPJS.