Pemkab Sumedang Sambut Baik Kegiatan PKM Mahasiswa FK UKI

SUMEDANG-REPORTER                                Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK UKI) mengadakan penelitian dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama UKI dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, sejak tanggal 16-20 April 2018. Tema acara ini ialah “Berbagi Kasih, Berbagi Sehat, Perangi Stunting!”

UKI bersama Pemerintah Kabupaten Sumedang menandatangani MoU kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan PKM FK UKI. Calon-calon dokter muda FK UKI berbagi kasih dengan membantu dan mengedukasi masyarakat tentang penyakit Stunting. Kegiatan ini adalah wujud nyata sivitas akademika untuk mendukung program pemerintah memberantas penyakit Stunting yang menghambat pertumbuhan dan kecerdasan anak-anak bangsa.

Guru Besar FK UKI, Prof. Dr. Soekirman, M.S. menjelaskan bahwa stunting atau stanting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak bayi di bawah lima tahun. Stanting dikarenakan kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir.

Serah Terima Plakat Warek III dengan Plt. Sekda Kab. Sumedang

Wakil Rektor Bidang Akademik UKI, Dr. Wilson Rajagukguk, M.SI., M.A. mengungkapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang atas dukungannya terhadap kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan FK UKI. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat Sumedang.

“Prevalensi jumlah balita di Kabupaten Sumedang yang mengalami stanting sebesar 41,08 %.  Masalah balita yang pendek dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu dan balita. Upaya pencegahan bayi stanting dilakukan dengan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Upaya intervensi gizi spesifik pada ibu hamil, ibu menyusui dan pada bayi baru lahir hingga usia 23 bulan. Ibu hamil perlu mendapat makanan baik, bayi lahir harus mendapat ASI eksklusif dan setelah usia 6 bulan mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi. Intervensi gizi sensitif dilakukan dengan ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, penanggulangan kemiskinan. 1000 hari pertama usia balita sangatlah penting diperhatikan untuk mencegah stanting,” ucap Dr. Wilson

Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang, Drs. H. Sanusi Mawi, M.Si.,  mengatakan “Menurut Riset Kesehatan Dasar, prevalensi stanting di Indonesia mencapai 37,2 %. Pembiayaan penanganan stanting di Kabupaten Sumedang berasal dari dana pemerintah daerah dan dana desa. Penelitian FK UKI ini diharapkan menghasilkan angka valid terkait angka prevalensi stanting di Kabupaten Sumedang.”

Dalam acara pembukaan Pelayanan Kesehatan Masyarakat ini, Prof. Dr. Soekirman, M.S. menunjukkan tayangan video Presiden Joko Widodo yang mendukung penanggulangan stanting. Joko Widodo menjelaskan bahwa stanting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia. Anak yang mengalami stanting akan mengalami gangguan perkembangan otaknya. Lalu memengaruhi prestasi sekolahnya dan memengaruhi produktivitasnya. Upaya menurunkan angka stanting melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk posyandu. Intervensi harus dilakukan pada pola makan, pola asuh dan menyediakan air bersih.

Prof. Soekirman menjelaskan faktor penyebab stanting bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal air bersih, jamban keluarga, pendidikan, kesetaraan gender, kebersihan lingkungan serta faktor pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia lainnya. Kebersihan lingkungan dan sanitasi terutama air bersih sangat penting untuk mencegah stanting. Pendidikan keluarga terutama ibu dalam memberikan makanan bergizi pada anak.

Mantan Staf perencanaan di Bappenas ini menjelaskan, ada 9 juta balita yang stanting dan mengancam Indonesia. Dampak stanting di tingkat negara adalah menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pendapatan pekerja. Pembangunan berkelanjutan ingin membebaskan negara dari anak stanting agar pada tahun emas Indonesia, tahun 2015, rata-rata penduduk dewasa tingginya di atas 170cm. Tinggi badan penduduk Indonesia sebagai salah satu indikator tercapainya negara maju, adil, dan makmur.