Pengarahan Peserta OSCE Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter 2017

JAKARTA-REPORTER        Panitia Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter menggelar briefing penyelenggaraan ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) di Ruang Kuliah II FK UKI, Cawang, Jakarta. Kemampuan keterampilan peserta ujian diuji dengan cara Objective Structured Clinical examination. Mahasiswa mengikuti ujian tanggal 25 November 2017 di Auditorium Grha William Soeryadjaya, Fakultas Kedokteran UKI, Cawang. Untuk periode November 2017 Uji Kompetensi OSCE dilakukan pada tanggal 25 – 27 November 2017.

Luana N.A, Sp.KJ menjelaskan, tujuan ujian OSCE adalah menjamin lulusan program profesi dokter yang kompeten dan sesuai standar nasional. Peserta uji kompetensi yang lulus akan mendapatkan sertifikat profesi dari perguruan tinggi dan sertifikat kompetensi. Peserta ujian merupakan mahasiswa program profesi dokter yang menempuh pendidikan di fakultas kedokteran yang telah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran. Mahasiswa dapat mengikuti uji kompetensi bila terdaftar pada Pangkalan Data Perguruan Tinggi. Pendaftaran dilakukan secara kolektif oleh fakultas kedokteran melalui sistem registrasi online uji kompetensi Mahasiswa Pendidikan Dokter. Untuk mengikuti ujian, peserta harus melakukan registrasi online lewat institusinya, yaitu di website aktivasi.pnukmppd.dikti.go.id.

“Hasil uji kompetensi diumumkan secara terbuka oleh Panitia Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter melalui media cetak dan elektronik, selambat-lambatnya 30 hari kerja setelah hari terakhir pelaksanaan ujian. Hasil uji kompetensi diserahkan kepada fakultas kedokteran sebagai dasar penerbitan sertifikat profesi dan kolegium sebagai dasar penerbitan sertifikat kompetensi. Hasil penilaian ujian terdiri dari tidak lulus, borderline atau minimally competent, lulus serta superior,” ujar Dosen FK UKI ini.

Ujian OSCE menilai keterampilan klinik anamnesis, pemeriksaan fisik, prosedur klinik dan interpretasi data penunjang, penegakan diagnosis, tata laksana nonfarmakoterapi, tata laksana farmakoterapi, komunikasi edukasi pasien, dan perilaku profesional. Uji Kompetensi OSCE sebagai exit exam pada setiap institusi pendidikan dokter. Perkiraan durasi total proses ujian yang ditempuh peserta adalah 5 – 6 jam dengan waktu rotasi OSCE 3,5 jam. Peserta akan melewati 14 station dengan waktu masing masing 15 menit.

dr. Luana menambahkan, bila peserta menemui masalah kesehatan pribadi atau masalah administrasi selama sesi ujian, maka peserta dapat segera menyampaikan masalah ke penyelia pusat di lokasi ujian selama ujian berlangsung. Peserta juga menyerahkan laporan tertulis mengenai masalah kepada ketua PNUK MPPD paling lambat 7 hari setelah setelah tanggal ujian. Selama kegiatan di lokasi OSCE, peserta ujian wajib mengenakan jas dokter berwarna putih polos, mengenakan pakaian rapi, sepatu tutup dan mengenakan tanda pengenal OSCE. Alat elektronik seperti telepon genggam, jam tangan, perekam suara, laptop dilarang dibawa ke lokasi ujian.

“Kalian harus mempersiapkan fisik dan mental. Fokus pada tugas dalam instruksi, jangan lupa mencuci tangan, prosedur aseptic, dan informed consent, hindari membuang waktu dengan memberi penjelasan pada penguji tanpa melakukan keterampilan yang diminta,” pesan dr. Luana N.A. Sp.KJ

Satuan biaya penyelenggaraan uji kompetensi mahasiswa program profesi dokter terdiri dari biaya pelaksanan uji kompetensi dan biaya operasional kepanitaan uji kompetensi. Untuk tahun 2014 – 2015 satuan biaya pelaksanaan uji kompetensi tiap peserta adalah Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) yang terdiri dari biaya pelaksanaan MCQs CBT sebesar Rp 400.000 dan biaya pelaksanaan OSCE sebesar Rp 600.000. Standar biaya operasional kepanitiaan uji kompetensi sesuai dengan Standar Biaya Masukan Tahun 2014.

Dian Apriliana Rahmawatie , M. Med. Ed., mengatakan semua peserta diharapkan membaca instruksi soal di meja dan pintu. Peserta diharapkan memperlakukan pasien dan mannequin sesuai dengan kode etik. Setiap mahasiswa wajib menerapkan profesionalisme yaitu melakukan tindakan dengan menjaga kenyamanan pasien. “Mahasiswa peserta ujian jangan sampai membawa alat di dalam station seperti stetoskop ke luar ruangan ujian,“ tandas dokter dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang tersebut.