“Pentingnya Edukasi Seks Sejak Dini”

JAKARTA-REPORTER Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) seperti tak pernah usai dibahas. Memang tak dipungkiri keberadaan mereka benar adanya dan banyak yang memandang sebelah mata kaum minoritas ini. Lalu apakah pandangan tentang LGBT bila dilihat dari perspektif keilmuan?

Pertanyaan tersebut dikupas dalam sebuah seminar nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP UKI) pada hari Kamis, 13 April 2017, di Ruang Seminar Lantai 3 Gedung AB, Kampus UKI Cawang.

Seminar ini mengupas tentang LGBT dalam perspektif ilmu Pendidikan khususnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Psikologi, Bimbingan dan Konseling, dan Kejiwaan (Psikiatri). Selain itu juga dikupas mengenai sejauhmana peran serta guru BK, dan para praktisi dalam bidang psikologi dalam menyikapi LGBT.

Narasumber yang hadir sangat berkompeten, yakni Dr. Lina Herlina, M.Ed. (Kasubdit PK PLK SPILN, Dit PGTK PAUD DIKMAS), Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd. (Ketua Asosiasi Bimbingan & Konseling Indonesia atau ABKIN), Imelda Ika Dian Oriza, S.Psi., M.Psi. (Psikolog UI), dan dr. Dharmawan, SpKj. (Psikiater & Ketua IDI Cabang Jakut).

Seminar dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. dr. Gilbert Simanjuntak, Sp. M(K)., dengan pemukulan gong sebanyak lima kali.

“Merupakan kebanggaan untuk UKI bisa menyelenggarakan pertemuan ini dengan waktu singkat dan melihat anak-anak berkebutuhan khusus menjadi subjek yang dilayani, saya jadi membayangkan hidup di tengah-tengah keluarga yang demikian tentunya mereka tidak bisa berdiri sendiri. Program BK buat saya menjadi sesuatu yang menarik karena tidak semua orang mau berdedikasi,” tutur dr. Gilbert.

Narasumber pertama yang memberikan pemaparan adalah Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., beliau membahas tentang LGBT dalam Konseling.

Menurut Prof. Mungin, yang harus dilakukan oleh konselor adalah memiliki pemahaman tentang isu-isu gaya hidup LGBT di berbagai rentang usia, menghilangkan stereotip terhadap identitas konseli yang homoseksual, dan kesadaran penerimaan dan pemahaman konselor merupakan modal utama agar proses konseling berjalan kondusif dan efektif.

“Peran konselor memfasilitasi perkembangan peserta didik, membantu menyadarkan keluarga, interaksi dan dukungan moral pada kondisi LGBT,’ ucap Prof. Mungin.

Dr. Lina Herlina dari Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini (PAUD) mengatakan pendidikan seks usia dini sudah perlu, dan menurut penelitian sejak lahir kita sudah bisa ajarkan.

“Ajarkan anak-anak kita berpikir positif sejak dini. Peran pendidik itu sangat penting, termasuk peran orang tua di rumah,” kata Dr. Lina

Sementara itu jika menilik dari sudut pandang Psikiatri, dr. Dharmawan mengatakan bahwa Homoseksualitas bukanlah lagi sebuah penyakit, namun tentunya di negara yang masih lumayan kental dengan agama seperti Indonesia, banyak yang tetap kekeuh berkata bahwa homoseksualitas itu penyakit yang harus disembuhkan.

“Sedangkan menurut APA (American Psychological Association) yang umumnya menjadi tolak ukur dari perkembangan psikologi, homoseksual dan biseksual bukan lagi sebuah penyakit melainkan hanyalah variasi orientasi seksual manusia yang beragam, sehingga APA mengahapuskan homoseksual dari daftar penyakit mental yang harus disembuhkan,” imbuhnya.

Yang cukup menarik perhatian dalam seminar ini, tampak hadir beberapa peserta dari kelompok transgender. Mereka mengaku sangat senang mengikuti kegiatan seperti ini dan mendukung seminar-seminar tentang LGBT di lingkungan kampus. Salah satunya Davin, pemilik salon dan sanggar rias pengantin, ia ingin menyuarakan kesetaraan pendidikan untuk kaum LGBT.

“Selama ini kita selalu didiskriminasi untuk masuk perguruan tinggi (PT) atau sekolah. Kita juga ingin mengenyam pendidikan layak seperti masyarakat pada umumnya, tapi kenapa kita ini selalu didiskriminasi untk masuk PT. Aku ajuin bisa nggak sih UKI menerima transgender untuk mendapat pendidikan setara? karena selama ini kita selalu dianggap, ah… paling waria itu bisanya nyalon, ngamen, menjajakan seks, padahal kita itu bisa bekerja seperti khalayak pada umumnya, kita bukan tidak mau mengenyam pendidikan, tapi kita selalu didiskriminasi di dunia pendidikan,” tutur Davin, yang juga menjabat sebagai Bendahara di komunitas Srikandi Patriot Kota Bekasi.

Selain seminar nasional, kegiatan ini juga diisi dengan lomba Fotografi Nasional Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai bentuk dedikasi prodi BK FKIP UKI pada Anak Berkebutuhan Khusus. Dalam Lomba Fotograpi ditampilkan foto-foto mengenai kehidupan Anak Berkebutuhan Khusus setiap harinya. Dan berikut nama-nama pemenangnya:

Juara 1: Zuyyina Ramadhan Azzahida (Sekolah Khusus Bintaro), juara 2: Neila Dasinsingon (Gorontalo), dan juara 3: Oktavia Eka Putri Anggraini (Banjarmasin).

Selamat untuk para pemenang,

(jeh/lis)