Peran Perguruan Tinggi dalam Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0

Program Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (PPS UKI) menggelar kegiatan Kapita Selekta dengan topik pembahasan “Isu-Isu Pendidikan di Era 4.0” di Aula Kampus UKI Diponegoro, Salemba, Jakarta Pusat (02/02/2019).

Kegiatan Kapita Selekta di tanggal 2 Februari 2019 ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hukum dan Kerjasama (WRKK), Dr.rer.pol., Ied Veda R. Sitepu, SS., MA. serta Dr. Bintang Simbolon, M.Si selaku Direktur Program Pascasarjana. Kegiatan ini dipandu oleh moderator Dr. Lisa Gracia Kailola, S.Sos, M.Pd.

“Peguruan Tinggi menjadi semacam tempat persiapan atau pelatihan bagi sumber daya manusia (SDM). Namun perubahan cepat & dinamis yang diluar sana (pasar kerja), perguruan tinggi dituntut untuk mampu mempercepat langkah agar paling tidak seirama dengan perubahan yang terjadi. Era Revolusi Industri generasi 4.0 yang ditandai dengan automatisasi, komputer supercepat dan lainnya, menuntut perguruan tinggi untuk peka dan melakukan instropeksi diri sehingga mampu melihat posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada proses pembelajaran.” ujar Dr.rer.pol., Ied Veda R. Sitepu.

Doktor Ied Veda Sitepu menambahkan bahwa Perubahan yang cepat dari dimulainya Revolusi Industri generasi keempat, memaksa Perguruan Tinggi mengambil langkah perubahan agar perencanaan proses pembelajaran dapat didesain menghasilkan lulusan yang bersaing di era tersebut. Kegiatan intra-, kokurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler dirancang dapat membekali mahasiswa dalam pemerolehan atau penguatan kompetensi yang dibutuhkan di abad ke-21, seperti pemecahan masalah yang kompleks, berpikir kritis dan kreativitas.

Dr. Bintang Simbolon, M.Si, memberikan pemaparan tentang ‘Pentingnya Membangun Komunikasi yang Baik Melalui Pengenalan akan Temperamen Mitra.’

“Menurut suatu penelitian, keberhasilan seorang pemimpin bukanlah karena kompetensinya tetapi bagaimana pemimpin membangun hubungan antar personal yang baik dengan seluruh anggota organisasinya. Upaya sungguh-sungguh seorang pemimpin untuk memajukan organisasinya adalah sangat penting. Pemimpin harus mengenal sungguh-sungguh semua orang dalam organisasinya dan menguasai sungguh-sungguh segala hal dalam organisasnya untuk menjamin proses Komunikasi Organisasional dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya misi organisasi diharapkan akan terwujud dengan sempurna. Kemampuan seorang pemimpin dibutuhkan dalam menelaah temperamen dari orang-orang dalam koordinasinya, “ ujar Doktor Bintang

“Ada empat temperamen yaitu, sanguin, kolerik, melankolis dan phlegmatis. Kemampuan penguasaan pemimpin akan temperamen semakin besar karena harus semakin akurat semua sumber daya manusia diatur dalam spesifikasi masing-masing, “ tambah Direktur Program Pascasarjana UKI ini.

Di tanggal 15 Februari 2019, Kepala Program Studi Magister Administrasi Pendidikan UKI, Dr. Dra. Mesta Limbong, M.Psi menjelaskan tema ‘Manajemen Kelas di Sekolah Menengah Atas Era Revolusi Industri 4.0’ di Kampus Pascasarjana, Diponegoro (15/02).

Kepala Program Studi Magister Administrasi Pendidikan UKI, Dr. Dra. Mesta Limbong, M.Psi memberikan penjelasan ‘Manajemen Kelas di Sekolah Menengah Atas Era Revolusi Industri 4.0’

“Revolusi Industri 4.0 membutuhkan perubahan mendasar dalam aspek utama pendidikan baik materi, penyampaian (pedagogik) dan struktur (manajemen pendidikan). Dibutuhkan kemampuan guru untuk memanfaatkan berbagai media yang sesuai kebutuhan peserta didik serta lingkungan sekitar dimana kelas dilaksanakan. Manajemen kelas yang selama ini dilakukan secara konvensional harus mengalami terobosan dengan memanfaatkan media elektronik dan pembelajaran variatif, “ ujar Dr. Dra. Mesta Limbong, M.Psi

Menurut Dr. Mesta Limbong, siswa SMA membutuhkan pelayanan serius untuk mendapat pendampingan dan pelayanan di era 4.0 dengan tetap memperhatikan kebutuhan siswa sebagai pribadi. Kepekaan pendidik dibutuhkan supaya peserta didik tetap melangkah dikoridor yang seharusnya sebagai cikal bakal penerus bangsa. Guru harus mampu memahami kebutuhan peserta didik yang termasuk kelompok milenial supaya tetap produktif dan dapat menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab di sekolah.