Poppin’ English Week

Fakultas Sastra UKI bersama Komunitas Gumul Juang mengadakan kegiatan belajar dan mengajar bersama-sama adik-adik Bimbel Cawang. Kegiatan ini merupakan PKM dalam rangka Pekan Liburan Anak (Poppin’ English Week). Kegiatannya diisi dengan Kelas Bahasa Inggris, kelas Wawasan Indonesia, Kelas Kreatif, dan juga study tour. Pelaksanan kegiatan dari tanggal 4 – 12 Juli 2019 di Fakultas Sastra UKI. Adik-adik Bimbel Cawang terdiri dari anak-anak umur 5-15 tahun yang sebagian merupakan anak dari pedagang kantin dan petugas kebersihan di UKI yang tinggal di kelurahan Cawang.

 “Kegiatan ini diharapkan dapat menunjang kemampuan Bahasa Inggris adik-adik Bimbel Cawang dan meningkatkan kreativitas mereka. Tentu juga untuk mengisi liburan adik-adik Bimbel Cawang,” ungkap Wakil Dekan FS UKI, Jannes Freddy Pardede, SS., M.Hum.  

Pembukaan acara dihadiri Lurah Cawang, Didik Diarjo,S.E., M.E untuk meresmikan kegiatan. Acara bertambah meriah dengan quiz yang dibawakan Lurah dengan berbagai hadiah untuk adik-adik Bimbel Cawang. Tim Audit Mutu Internal BPM UKI, Dr. Yunita Sitompul, M.K.K., Sp.Ok turut mengunjungi PKM yang dilakukan Fakultas Sastra UKI ini.

Poppin English Week Fakultas Sastra UKI semakin seru ! Anak-anak Komunitas Gumul Juang mengunjungi Museum Keprajuritan Indonesia, TMII, Jakarta Timur (11/07). Mahasiswa FS UKI mendampingi adik-adik Bimbel Cawang dengan berkomunikasi dan bernyanyi dalam Bahasa Inggris.

Setelah mereka sepekan disibukkan dengan pelajaran Bahasa Inggris di kelas, anak-anak yang merupakan dampingan Komunitas Gumul Juang (KGJ) ini juga dilatih untuk memasak. Kali ini, mereka memasak cupcakes (12/07).

Kegiatan memasak menjadi suatu cerita yang indah dan menyenangkan bagi mereka di pekan liburan ini. Anak-anak ini dilatih untuk mencampurkan bahan-bahan sesuai resep masakan yang sudah dipersiapkan kakak pengajar sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok bersama kakak pendamping.

Terlihat anak-anak antusias ketika mulai mengaduk adonan yang terdiri dari telur, tepung terigu, minyak, susu, dan pewarna makanan. Tidak lupa juga, kakak pengajar yang melakukan demo masak menggunakan Bahasa Inggris dalam kegiatan masak tersebut, “Ini apa adik-adik? Tepung. Bahasa Inggrisnya ‘wheat flour.’” Anak-anak mengikuti pengucapan yang kakak pengajar peragakan di depan mereka, “Ya, kak itu sugar, egg, chocolate, milk, dan flower,” canda salah satu anak. “Flower? Flour yaaa dek,” koreksi Kak Mage sebagai pengajar.

Motorik anak dan emosional juga dilatih dalam kegiatan ini, seperti saat mengaduk adonan, menuang minyak, mengukus, dan saat menghias cupcakenya. Kerja sama antara kakak pengajar dan anak-anak juga dilatih untuk membuat cupcake, adonan yang tidak seharusnya tumpah dan berceceran. Semuanya tentang kebersamaan dan kreativitas.

Catherine Monica