Prodi Fisioterapi UKI Hasilkan Lulusan Berkualitas yang Siap Kerja

Jakarta – Ingin menjadi seorang fisioterapis atau menjadi konsultan kesehatan gerak & fungsi sampai menjadi pelatih kebugaran? Peluang ini bisa didapatkan dengan kuliah di Prodi Fisioterapi, Fakultas Vokasi UKI.

Bukan hanya sebatas keinginan yang bisa didapatkan, tetapi juga peluang kerja setelah lulus, apalagi pada kondisi pandemi Covid 19 yang memerlukan penanganan lanjut setelah terpapar Covid 19, untuk mengembalikan kemampuan fisiknya terlebih pada kapasitas paru-paru. Saat ini pusat pelayanan kesehatan akan terus membutuhkan fisioterapis. Selain itu, mulai menjamurnya kegiatan olahraga, maka fisioterapis akan sangat berpeluang memberikan pelayanan latihan yang tepat pada orang yang gemar berolahraga di masa pandemik.

Penjelasan ini disampaikan Lucky Anggiat Panjaitan, S.Tr.Ft., M. Physio, Ketua Program Studi Fisioterapi, Fakultas Vokasi UKI,  yang kemudian menambahkan, bahwa fisioterapis tidak bekerja secara shift seperti perawat, ia dapat berwirausaha  seperti home visit yang waktu kerjanya sangat fleksibel.

Sejumlah keistimewaan memilih prodi Fisioterapi UKI, masih kata Lucky, antara lain didukung rumah sakit sendiri yakni RSU UKI juga, mereka juga unggul dalam dalam bidang traumatologi dan olahraga yang belum ada di kampus lain. “Fasilitas, sarana dan prasarana  pun mendukung keunggulan kami sehingga mahasiswa siap untuk menjadi fisioterapis yang unggul dalam bidang traumatologi dan olahraga,” ujar dia.

Dalam menerapkan perkuliahan daring, sambung dia, Prodi Fisioterapi menerapkan metode hybrid, dimana mahasiswa dapat melihat secara audiovisual dan mempraktikkannya bersama orang tua atau saudara di rumah. Selain itu, mereka juga menerapkan flipped classroom, di mana mahasiswa menyaksikan lebih dulu video penjelasan materi praktikum di kanal youtube Prodi Fisioterapi, lalu datang ke kampus untuk praktik tentang apa yang mereka dapatkan.

“Kami saat ini akan mengirimkan mahasiswa ke lahan praktik dengan mengikuti protokol kesehatan secara ketat. Semoga semua solusi itu tetap dapat mempertahankan kualitas lulusan yang siap kerja menjadi fisioterapis,” jelas dia. (ics)