Prof. Dr. Miranda S. Gultom: “Ciptakan Budaya Akademik: A Lifetime Learning Process”

JAKARTA-REPORTER Tahun ini (2017) Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE UKI) genap berusia 64 tahun, sebagai salah satu fakultas tertua di UKI, FE UKI tetap bertahan di tengah persaingan antarkampus yang semakin tumbuh pesat, khususnya di Ibukota, DKI Jakarta. FE UKI akan merayakan Dies Natalis dengan beberapa rangkaian acara, yang diawali dengan seminar bertajuk “Penguatan Komitmen dan Koordinasi untuk Membangun Budaya Akademik yang Berdaya Saing” pada Rabu, 26 Juli 2017, di Ruang Eksekutif FE UKI, Cawang, dengan narasumber menarik, yakni Prof. Dr. Miranda Swaray Gultom, S.E., MBA., (Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia) dan Dra. Dewi Trirahayu, M.M. (Ketua LPPM Universitas Pancasila).

Dekan Fakultas Ekonomi UKI, Dr. Josephine Tobing, S.E., MS., dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar di usia ke-64 FE UKI tetap eksis.

“Dalam rangka Fakultas Ekonomi yang usianya 64 tahun pada tanggal 15 oktober, kami berharap kami juga bisa eksis di tengah bangsa ini dalam kerangka membangun bangsa, yang mempunyai kemampuan dalam berdaya saing. Kami juga ingin sharing dengan UI dan UP, kami berharap dengan pertemuan hari ini UKI juga bisa bangun dan bangkit kembali melalui fakultas-fakultasnya,” tutur Dekan.

Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Posma Sariguna J.K. Hutasoit, S.E., M.Si., MSE., dengan pemapar materi pertama adalah Ketua LPPM Universitas Pancasila, Dra. Dewi Trirahayu, M.M. Beliau berbagi tentang pengalamannya selama membina LPPM Universitas Pancasila (UP) Jakarta. Menurut beliau, perlu adanya kerja sama di unit-unit dan dosen di setiap fakultas karena yang dinilai adalah lembaganya.

“Kami mungkin ada di posisi kurang memuaskan, tetapi saya berani untuk dinilai. Oleh karena itu, dalam rangka memajukan pengabdian kepada masyarakat, kami sosialisasikan kepada dosen-dosen pelaporan yang diharapkan itu seperti ini. sehingga kita buat formatnya,” kata Dewi.

Dewi juga memberikan masukan kepada para peserta seminar bagaimana caranya agar UKI bisa menjadi lebih baik, khususnya bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Beri target terhadap diri kita sendiri, kerjakan apa yang harus kita kerjakan, bekerja dengan sungguh-sungguh, bermanfaat untuk orang lain, khususnya untuk institusi kita,” tutur Dewi.

Mantan Deputi Gubernur BI yang juga Guru Besar di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Miranda Gultom, S.E., MBA., menyampaikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan budaya akademik yang berkarakter dan berdaya saing, di antaranya: Perguruan tinggi harus memfasilitasi pengembangan budaya akademik secara berkesinambungan, Setiap dosen terbuka peluang untuk mengembangkan potensi dirinya tanpa ‘dikungkung’ aturan birokrasi , dan perlu keteladanan para senior terutama para guru besar dalam kegiatan mengajar, membimbing, dan meneliti serta menulis jurnal dan buku ajar.

Miranda juga memperkenalkan konsep STEM Education, singkatan dari Science, Technology, Engineering, dan Mathematics, di mana STEM dan Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan senjata utama untuk bersaing di dunia global. Menurut beliau, kemampuan dan pengetahuan kita dalam STEM masih relatif rendah dibanding negara maju, bahkan dengan negara tetangga. Seperti diketahui, Seorang pendidik STEM adalah guru atau profesional lain yang mempersiapkan siswa untuk mencari peluang yang terkait dengan bidang studi yang melibatkan matematika, ilmu pengetahuan, teknologi, dan rekayasa.

“Jaman sekarang, jadi dosen jangan sok tahu, justru kalianlah yang diuji. Anda akan tetap seperti itu, dosen yang begitu-begitu saja, biasanya ngasih angka (nilai) susah, dan senang banyak yang nggak lulus. Tolong berpikir to higher! Dosen jangan bikin mahasiswa kita jadi sebal,” cetus Prof. Miranda.

Prof. Miranda juga menuturkan pentingnya penelitian di perguruan tinggi karena pendidikan tinggi diciptakan untuk memfasilitasi social learning dibawah supervisi orang dewasa. Dosen pengajar di FE UI sejak tahun 1975 ini mengaku sangat hobi menulis, beliau telah melakukan banyak penelitian dan menulis 139 makalah. Bahkan, beberapa karya paper-nya diterbitkan di jurnal-jurnal perguruan tinggi di luar negeri.

“Memangnya saya jago menulis? Tidak! Tetapi saya orang yang mau kerja dari pagi sampai pagi, dan saya punya mimpi,” tandasnya.

Selain STEM, Prof. Miranda juga menyampaikan bahwa dibutuhkan Lifelong learning (pembelajaran sepanjang hayat), konsep belajar ini dikemukakan oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Development (ICED) atau Komisi Internasional Pengembangan Pendidikan. Bahkan lembaga PBB, UNESCO, telah membentuk UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL), bertempat di Hamburg, Jerman, sebagai lembaga dan unit organisasi dalam PBB untuk program Lifelong Learning.

Atas dasar tersebut, Prof. Miranda merekomendasikan agar UKI menciptakan budaya Akademik: A lifetime learning process. Caranya, 1) keluar dari comfort zone dan berani mengambil risiko (risk taking); 2) Selalu jujur untuk melakukan assessment terhadap kegagalan dan kesuksesan dalam diri (self reflection); 3) berusaha mendapatkan ide dan opini dari orang lain (solicitation of opinion); 4) menjadi pendengar yang baik, dan 5) Terbuka terhadap ide-ide baru.

(jeh/lis)