Prof. Yanyan, Guru Besar Hubungan Internasional UNPAD: “ASEAN Telah Berevolusi Menjadi East Asia Summit”

JAKARTA- REPORTER Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI), menggelar Kuliah Umum dengan tema “Indonesia dan ASEAN Pasca 2015” dalam rangka memperingati Dies Natalis UKI ke-64 dan menyambut Mahasiswa Baru FISIPOL Tahun Akademik 2017/2018. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 13 September 2017, di Ruang Seminar lantai 3, UKI Cawang.

Menurut Dekan Fisipol, Angel Damayanti, M. Si., kegiatan seperti ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan FISIPOL UKI, dan tema yang diangkat pun masih seputar ASEAN, yang menjadi fokus isu Prodi Hubungan Internasional FISIPOL UKI. Tujuannya adalah untuk mencerdaskan, membuka wawasan, dan menumbuhkan sikap kritis mahasiswa, khususnya para mahasiswa baru.

“Kenapa isu ASEAN yang dipilih? Karena memang ASEAN ini menjadi fokus FISIPOL, bahkan visi misi fisipol dan UKI itu adalah menjadi universitas unggulan, paling tidak di wilayah ASEAN. Indonesia sudah menjadi bagian dari ASEAN. Bahkan, mulai 31 Desember 2015, Asean Community itu sudah terbentuk, Indonesia menjadi bagian di situ, sehingga tantangan buat Indonesia adalah bagaimana Indonesia bisa memainkan peranannya dalam masyarakat ASEAN, “ tutur Dekan FISIPOL.

Angel menuturkan, salah satu program kerja di FISIPOL UKI memang fokus pada ASEAN, yang melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti, kerja sama yang berkaitan dengan ASEAN, Kementerian Luar Negeri, Guru-Guru Besar, dan praktisi.

“Di mulai dari bulan April 2017, kami membuat seminar kerja sama dengan Kemenlu, seminar tentang ASEAN dalam rangka ulang tahun ASEAN ke-50, dan menerbitkan buku regionalisme inklusif ASEAN. Kami juga ikut parade festival ASEAN 50, kami mengirim sejumlah mahasiswa, mereka ikut memeriahkan acara parade, menarikan tarian Papua, dan itu disambut antusias oleh masyarakat. Ketiga, kami juga mengirimkan mahasiswa kami menjadi Finalis Duta Muda ASEAN. Itu menunjukkan kami adalah bagian dari Indonesia, dan Indonesia adalah bagian dari ASEAN, dan kami mendukung itu. Bahkan, beberapa program kegiatan seminar, FGD, dan perkuliahan memang memasukkan ASEAN menjadi isu yang dijelaskan atau kajian yang dikembangkan,” papar Angel.

Seminar ini dipandu oleh moderator, Verdinand Robertua (Dosen dan Sekretaris CESFAS UKI), dengan pembicara Prof. Yanyan Mochamad Yani, MAIR., Ph.D, yaitu Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Pajajaran, Bandung. Beliau adalah seorang pakar di bidang Ilmu Hubungan Internasional, yang sudah banyak menulis buku-buku tentang Hubungan Internasional, politik luar negeri, dan keamanan internasioanal.

Pada Kuliah Umum ini, Prof. Yanyan mengkaji tentang motif luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

“Bebas artinya menentukan sikap sendiri, aktif untuk mencapai kepentingan bangsa Indonesia (melalui diplomasi). Diplomasi adalah sebuah aspek yang dilakukan seluruh elemen bangsa Indonesia untuk mencapai kepentingan nasional,” katanya.

Terkait peran Indonesia dalam ASEAN Community, Prof. Yanyan menilai, dalam hubungan internasional, ASEAN dan Indonesia saling membutuhkan. Bahkan beliau berani menyatakan bahwa tidak ada ASEAN kalau tidak ada Indonesia.

“Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN, jadi tidak ada ASEAN kalau tidak ada Indonesia. Penduduk ASEAN hampir setengahnya adalah penduduk Indonesia, tidak akan ada ASEAN Community kalau tidak ada Indonesia. Tidak akan ada ASEAN Economy Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN), kalau tidak ada Indonesia. Bicara ekonomi, bicara masalah perut. Ekonomi itu Sumber Daya Alam, yang paling banyak ada di Indonesia” jelas Prof. Yanyan.

Lebih lanjut Prof. Yanyan menerangkan, ASEAN saat ini sudah sangat berkembang, hingga muncul POROS ASEAN, di mana ASEAN berevolusi menjadi East Asia Summit.

“Kalau Anda menjadi pakar HI di bidang ASEAN, hati-hati ketika menganalisis, ASEAN tidak 10 negara, tapi 18 negara. ASEAN didirikan tahun 1967, tahun 1994-1996 ada ASEAN Plus Three (Tiongkok, Korea, dan Jepang bergabung). Tahun 2005-2006 menjadi ASEAN Plus Six, yaitu ASEAN Plus Three plus (New Zealand, Australia, dan India). Tahun 2011, masuklah Rusia dan Amerika Serikat, namanya menjadi East Asia Summit. Semuanya adalah POROS ASEAN. Jadi, ASEAN ini seperti ‘gadis cantik’. Semua orang suka dan mendekat dengan ASEAN seperti magnet. Jadi hari ini sebagai pakar ASEAN, jangan lihat 10 negara, tapi 18 negara, karena ASEAN sudah berevolusi menjadi East Asia Summit,” terang Prof. Yanyan.

Posisi ini tentunya sangat menguntungkan Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN. Namun, Prof. Yanyan mengingat politik luar negeri yang dipegang Presiden Jokowi bahwa semua negara adalah sahabat Indonesia, tetapi tidak ada kompromi jika itu terkait dengan kedaulatan dan kepentingan nasional Negara Indonesia.

Setelah pemaparan, mahasiswa yang hadir diberikan kesempatan untuk bertanya kepada narasumber.

Acara Kuliah Umum ini ditutup oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik UKI, Dr. Wilson Rajagukguk, M. Si., M.A., yang menyampaikan beberapa arahan.

“Indonesia dari sisi ekonomi yang kalah itu adalah Pendapatan Per Kapitanya, bukan semua-semuanya. Itulah kekalahan kita dari beberapa teman-teman kita di ASEAN. Akan tetapi kalau dari market share, Indonesia salah satu pangsa pasar terbesar di dunia. Lihatlah “Philips” hidup karena Indonesia. Jadi dalam hal ASEAN Commmunity, kita perlu belajar lebih banyak. Bukan berarti kita kalah, pola pikir kalah itu marilah pelan-pelan kita geser. Posisi kita di ASEAN sebetulnya kita tidak kalah, yang perlu kita kejar adalah Pendapatan Per Kapita dan ini merembet kemana-mana,” pungkas Dr. Wilson.