Seminar Alumni Jerman : Women in Higher Education II

Universitas Kristen Indonesia menggelar Seminar Alumni Jerman bertemakan kesetaraan gender selama lima hari sejak tanggal 1 – 5 Desember 2019 di Auditorium Grha William Soeryadjaya, Kampus UKI, Cawang. Kegiatan ini adalah bentuk kerjasama antara UKI dengan University of Applied Sciences dan didukung oleh DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst). Seminar ini dihadiri oleh alumni DAAD dari Universitas Kristen Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jogyakarta, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan 12 universitas lainnya di Indonesia.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Prof. Yasonna Hamonangan Laoly, S.H., M.Sc., Ph.D hadir sebagai keynote speaker di seminar tanggal 5 Desember 2019, dengan tema Women in Higher Education II: Introducing Gender & Diversity in Teaching and Curricula.

“Undang-undang tentang Hak Asasi Manusia Republik Indonesia menekankan penghapusan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Di tataran internasional ada persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Menjadi tantangan bagi kita semua untuk menghapus diskriminasi gender di kehidupan sehari-hari,” ujar Prof. Yasonna Hamonangan Laoly.

Koordinator Pelaksanan Seminar Alumni Jerman ini, Dr. rer. pol. Ied Veda R. Sitepu, S.S., M.A menjelaskan, “Perguruan Tinggi perlu memasukkan pengarusutamaan gender dalam kurikulum. Tenaga pendidik dan mahasiswa harus memahami permasalahan gender dan mengimplementasi dalam proses belajar. Dalam Seminar Gender in Higher Education II ini, kami mendiskusikan Gender Equality and Social Inclusion Framework, yaitu kerangka kerja yang membantu kita belajar dan berkoordinasi untuk keseteraan gender dan inklusi sosial.”

Dr. rer. pol. Ied Veda R. Sitepu, S.S., M.A. menambahkan bahwa peran gender dalam pembangunan dan pendidikan meningkat secara signifikan, tidak hanya di negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Seminar Alumni Jerman ini memberikan manfaat dan pengalaman berharga dalam usaha mewujudkan sebuah dunia yang bebas dari batasan gender. Sebuah dunia di mana laki-laki dan perempuan bekerja dalam keharmonisan dan maju bersama

Introducing Gender & Diversity in Teaching and Curricula

Rangkaian Seminar Alumni Jerman dimulai dari tanggal 2 Desember 2019, dengan pembicara di antaranya Britta Thege (Fachhochschule Kiel), Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari, M.Hum (Universitas Indonesia), dan Dr. Mareike (Fachhochschule Kiel) dengan difasilitatori oleh Dr. rer. pol. Ied Veda R. Sitepu, S.S., M.A.

Dr. Britta Thege menjelaskan mengenai pemahaman keseteraan gender pada respon pengajaran di kelas. Tujuan dari penjelasan dari sesi ini adalah mendukung pembelajaran siswa/i perempuan dan laki-laki secara setara. Perihal dari pemahaman kesetaraan gender ini tidak terlepas dari materi pelajaran apa yang diajarkan, bagaimana pengajaran berkolerasi dengan tempat ajar, dan cara penyampaian materi tersebut.

“Pentingnya menjaga interaksi suasana belajar selama berada di kelas. Pengajar dapat memberikan kesempatan yang sama baik untuk murid laki-laki dan perempuan untuk menjawab pertanyaan, mengarahkan kelompok belajar yang terdiri dari perempuan dan laki-laki, melahirkan pemimpin-pemimpin kelompok baik perempuan dan laki-laki. Penting bagi tenaga pendidik untuk memastikan tidak ada murid paling dominan di antara murid yang lainnya,” ujar Dr. Britta Thege.

Pada tanggal 4 Desember 2019, kegiatannya adalah kunjungan ke UNFPA (United Nations Fund for Population Activities) Indonesia dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Risya Kori (Gender Programme Specialist UNFPA Indonesia) membahas Kekerasan Berbasis Gender. Dalam menangani isu-isu kekerasan yang berbasis gender ini, UNFPA bekerja sama dengan beberapa lembaga/komunitas, di antaranya MSSIS, LK3A, P2TP2A, dan lain-lain. Implementasi dari kerja sama ini adalah program-program yang melibatkan pemerintah, seperti halnya pada pernikahan di bawah umur, cyber bullying, dan masalah infrastruktur.

Dalam kunjungannya ke gedung DPR, UKI disambut oleh fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), di mana ada anggota dari beberapa komisi, yaitu Mercy Barens dari Komisi VII, Diah Pitaloka dari Komisi VIII, Sri Rahayu dari Komisi IX, Vanda Sarundajang dan Irine Yusiana dari Komisi X.

Peserta seminar menyampaikan agar DPR mempertimbangkan unsur gender dalam setiap program dan pengajuan anggaran. Anggota DPR sudah mulai dengan me-review Undang-undang yang ada dan memasukkan masukan dari akademisi yang menjadi dasar bagi informasi dan data dari akademisi sehingga kebijakan UU yang dihasilkan akan memiliki dasar kuat.

Kunjungan ke DPR ini diawali dengan penjelasan memasukkan materi tentang gender ke dalam mata Kuliah Pancasila, Kewirausahaan, Bahasa Indonesia, dan Agama. Tujuan dari pertemuan ini adalah tercapainya peluang dalam pekerjaan dan pendidikan yang tidak bias gender.