Seminar AP-YUKI: Good Corporate Governance Perkuat Industri Perbankan Indonesia

JAKARTA-REPORTER Dalam rangka Dies Natalis yang Ke-25, Akademi Perbankan Yayasan Universitas Kristen Indonesia (AP-YUKI) menyelenggarakan sebuah seminar dengan tema “Meningkatkan Good Corporate Governance dalam Rangka Memperkuat Industri Perbankan” di Auditorium Grha William Soeryadjaya, Fakultas Kedokteran, Cawang (24/5). Seminar ini merupakan salah satu rangkaian dari perayaan hari jadi AP-YUKI yang mengusung tema “Reborn to be Better”.

Dengan mengusung topik tersebut, panitia mengundang dua orang narasumber berkompeten, yaitu Erna Nilam Permata (Perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan) dan R. Paul Sianturi, S.E., M.M., QIA., CFE. (Mantan Senior Vice President Bank Mandiri/ Dosen AP-YUKI).

Seminar dibuka langsung oleh Ketua Yayasan UKI, Dipl. –Ing. Salomo Panjaitan, dengan pemukulan gong. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa tenaga-tenaga terampil (vokasi) seperti lulusan dari AP YUKI sangat dibutuhkan.

“Indonesia dengan demografinya banyak membutuhkan vokasi atau tenaga-tenaga terampil. Bahkan, di Jerman vokasi sudah menjadi tulang punggung industri. S2 dan S3 sangat banyak di sana, tetapi mereka tidak bisa maju tanpa pekerja-pekerja vokasi. Ini yang menjadi tantangan,” tutur Salomo.

Tampak hadir pula Dr. Antony Sihombing, Ph.D (General Manager YUKI & Ketua Forum Akademi Vokasi Indonesia), Dr. Maruarar Siahaan, S.H. (Rektor UKI), Dr. dr Gilbert Simanjuntak, Sp. M(K) (Wakil Rektor I Nonakademik UKI), Dr. Lis Sintha, S.E., M.M. (Direktur AP YUKI), dan Richardo Simatupang (Ketua DPD Perbarindo DKI Jaya).

Dalam kesempatan tersebut Ricardo Simatupang selaku Ketua DPD Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia) DKI Jaya juga mengucapkan selamat dan terima kasih kepada AP-YUKI atas kerja sama dengnan Perbarindo selama ini.

“Kehadiran saya mewakili rekan-rekan saya yang jumlahnya 220 orang. AP-YUKI telah cukup banyak memberikan sumbangan untuk jenjang pendidikan di BPR karena banyak di BPR yang hanya lulusan SMA dan D3. Kerja sama antara AP-YUKI dengan Perbarindo sudah lebih dari 8 tahun. Saya berharap bahwa kerja sama ini bisa dilanjutkan,” kata Ricardo Simatupang.

Seminar ini dimoderatori oleh Direktur AP-YUKI, Dr. Lis Shinta, S.E., M.M., dan diawali dengan pemaparan dari Direktorat Penelitian dan Pengaturan BPR Departemen Penelitan dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Erna Nilam Permata, yang didampingi oleh asistennya, Bagus. Mereka menyosialisasikan Penerapan Tata Kelola Bagi BPR.

“OJK sudah pernah mengeluarkan penetapan tata kelola bagi BPR dan OJK sudah mencabut 33 BPR yang bermasalah,dan 75% masalah fraud ada di BPR,” jelas Erna.

Ada lima Prinsip-Prinsip Tata Kelola BPR yang harus dipatuhi, bila disingkat menjadi TARIF (Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness). Kelima prinsip ini menjadi bahan penilaian Penerapan Tata Kelola oleh OJK.

Menurut Erna, jika sebuah bank tidak bisa dipercaya, orang tidak akan mau menitipkan uangnya, sehingga harus dikelola dengan baik. Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan yang Baik) menjadi acuan semua orang di perbankan.

Sementara itu, narasumber lainnya, R. Paul Sianturi, S.E., M.M., QIA., CFE, menjelaskan tentang Pilar Governance, di mana tidak boleh ada intervensi.

“Prinsipnya tidak boleh ada intervensi dari suatu bagian/unit lain artinya bekerja sesuai dengan job description masing-masing yang sudah ditetapkan, semua sesuai aturan sehingga tercapai tata kelola yang baik,” tutur Paul.

Di akhir seminar, Dr. Lis Shinta, S.E., M.M. sebagi moderator menyimpulkan hasil seminar ini.

“Jadi, Good Corporate Governance (GCG) adalah sebuah sistem keamanan perusahaan itu sendiri, di mana ada pengaturan hubungan dengan stakeholder itu sendiri,” pungkasnya.

(jeh/lis)