Seminar Green Architecture in The Tropics 11

JAKARTA-REPORTER Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UKI menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Hybrid Space, Urban Public Space in Contemporary Cities” pada 15 November 2017 di Auditorium Grha William Soeryadjaya, FK UKI, Cawang. Pelaksanaan seminar ini merupakan kerja sama antara Prodi Arsitektur FT UKI dengan program studi sejenis dari 8 (delapan) Perguruan Tinggi Swasta lainnya. UKI beserta 8 perguruan tinggi swasta tersebut akan bekerja sama dalam workshop pembuatan site plan dan detail plan fasilitas di ruang publik perkotaan, khususnya Ecopark Skywalk Podomoro City, Jakarta Barat. Workshop pelatihan rancangan ruang terbuka akan berlangsung dari tanggal 21-23 November 2017.

Tujuan diadakan seminar ini adalah untuk mendiskusikan perkembangan ruang publik hibrida di kota-kota Indonesia sekarang ini dan yang akan datang, membagi pengalaman pemerintah daerah dan para praktisi serta profesional dalam merancang dan membangun ruang publik, serta memahami permasalahan-permasalahan lingkungan dan sosial perkotaan di mana ruang publik punya kontribusi di dalamnya.

Seminar diawali dengan penandatanganan MoU 9 (Sembilan) universitas, yaitu Universitas Kristen Indonesia, Universitas Bung Karno, Universitas Budi Luhur, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Pancasila, Universitas Borobudur, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Universitas Trisakti, dan Universitas Persada Indonesia YAI. Kerja sama ini diyakini akan memperluas referensi dan relasi para sivitas akademika dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Acara seminar dibuka oleh Kepala Pusat Studi Arsitektur dan Lingkungan UKI, Prof. Dr.-Ing.Ir. Sri Pare Eni, lic.rer.reg dan Wakil Rektor UKI Bidang Akademik Dr. Wilson Rajagukguk, M. Si., MA. “Arsitektur merupakan salah satu dari bentuk ekonomi kreatif di masa depan. Arsitek menjadi penyumbang kesejahteraan manusia di masa depan,” kata Dr. Wilson Rajagukguk.

Pembicara pertama dalam seminar ini adalah Merry Morfosa, S.T, M.T., dari Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan Provinsi DKI Jakarta. Merry mengatakan tantangan pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam menata ruang terbuka hijau adalah keterbatasan pendanaan pemerintah dalam penyediaan ruang terbuka hijau, proses pembebasan lahan untuk ruang terbuka hijau, dan penggunaan lahan terbuka tanpa ijin. Merry Morfosa mengakui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalami kesulitan dalam pelaksanaan rencana ruang terbuka hijau.

“Perlu peran serta masyarakat dalam penyediaan ruang terbuka hijau. Masyarakat harus memandang ruang terbuka hijau sebagai kebutuhan hidup manusia,” ungkap Merry Morfosa.

Ke depannya, Merry menyarankan harus ada koordinasi pembangunan ruang terbuka hijau dengan pemangku kepentingan yang didukung Perda DKI Jakarta tentang penataan ruang terbuka hijau DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengharapkan ide mahasiswa dan akademisi untuk membuat Jakarta menjadi lebih baik.

Pembicara selanjutnya adalah Ir. Achmad Hery Fuad, M. Eng., Ir. Achmad Deni Tardiyana, MUDD, dan Ir. Sahala Simatupang, M.T. Pembicara pertama, Ir. Achmad Hery Fuad, M. Eng mengingatkan, ruang terbuka hijau harus seimbang dengan semakin banyaknya taman belanja di DKI Jakarta. Beliau juga menjelaskan beberapa tantangan dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Tantangan tersebut antara lain prioritas pembangunan ruang publik bukanlah prioritas pemerintah daerah, kurangnya ketersediaan dana pemerintah daerah, aktifitas informal yang menempati ruang publik, ruang terbuka publik terbentuk tanpa dirancang, dan tingkat keamanan dari ruang terbuka hijau.

“Maka ada beberapa pertimbangan dari perancang untuk membangun ruang publik yaitu pelibatan komunitas masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka, ruang publik yang akrab dengan anak-anak dan ruang publik mampu mengakomodasi kegiatan ekonomi informal,,” ucap Ir.Achmad Deni Tardiyana, MUDD.

Pembicara lain, Ir. Sahala Simatupang, M.T., menceritakan tentang Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di kawasan Kalijodo, “Kawasan Kalijodo merupakan kawasan prostitusi, namun setelah tahun 2016 kawasan ini menjadi ruang terbuka hijau. Perubahan penampilan kawasan Kalijodo didukung oleh dukungan dana dari swasta dan CSR. Ruang publik diharapkan

dapat memperbaiki lingkungan fisik dan sosial,” ucap Ir. Sahala Simatupang, M.T. Beliau menambahkan ada beberapa cara pemerintah untuk mendapat lahan yaitu mencari aset-aset pemerintah provinsi DKI Jakarta, menggusur lahan pemerintah provinsi DKI Jakarta yang ilegal, dan membeli lahan yang dimiliki masyarakat.

Setelah seminar dan makan siang, rangkaian acara dilanjutkan dengan pengantar workshop dari Prof. Dr. –Ing. Uras Siahaan, lic.rer.reg., pembentukkan kelompok workshop, dan penutupan oleh Dekan FT UKI, Ir. Galuh Widati , M. Sc., kelompok yang telah dibentuk tersebut selanjutnya melaksanakan ekskursi materi workshop ke Central Park dan Neo Soho (Jakarta).