Seminar Mendagri RI: Gaya Komunikasi Nonprotokoler Jokowi

JAKARTA-REPORTER              Komunikasi dalam politik itu penting untuk menunjukkan bagaimana seorang pemimpin berinteraksi dengan rakyatnya. Gaya komunikasi Presiden Joko Widodo adalah bersentuhan dengan semua kelompok masyarakat. Jokowi mengedepankan dialog untuk mendengarkan keinginan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo, S.H., dalam seminar Gaya “Komunikasi Jokowi: Membangun Budaya Dialogis Dalam Masyarakat Pluralis”Seminar yang diadakan di Auditorium Grha Wiliam Soeryadjaya FK UKI, Jakarta (11/12) itu diinisiasi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia.

Dibuka dengan kata sambutan Rektor UKI,  Dr. Maruarar Siahaan, S.H., Seminar dilanjutkan dengan mendengarkan paparan para pembicara, antara lain Dr. Ade Armando, M.Si., Dra. Eva Kusuma Sundari, M.A., MDE, dan Kris Budiharjo. Moderator dalam seminar ialah Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIPOL UKI, Singgih Sasongko, S.IP., M.Si.

Tjahjo Kumolo, S.H. menjelaskan gaya berkomunikasi Presiden Jokowi yang tidak mengedepankan hal yang bersifat protokoler, tidak ragu untuk melakukan kontak fisik dengan siapapun, dan kerap membagikan hadiah. Presiden mendorong upaya komunikasi dengan masyarakat melalui media sosial secara langsung dan tidak langsung agar masyarakat memahami kebijakan pemerintah.

”Jokowi mempunyai prinsip kuat terhadap empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintahan Jokowi menginginan organisasi masyarakat berpedoman pancasila sebagai ideologi, “ungkap mantan Sekjen PDIP  itu.

Tjahjo Kumolo, SH menyampaikan bahwa sampai sekarang Jokowi juga belum berpikir mengenai pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019. Jokowi terus bekerja membangunan infrastruktur, transportasi, dan tol laut terutama ke pulau-pulau kecil. Salah satu contohnya adalah pembangunan Desa Tanjung Saleh, Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Pemerintah sudah meanglokasikan anggaran sebesar Rp67 Triliun untuk pembangunan desa. Negara bertanggung jawab membangun wilayah Indonesia dan memperkuat otonomi daerah

Survei Litbang Kompas pada Oktober 2017 menggambarkan citra positif Presiden Joko Widodo yang masih relatif tinggi. Pakar komunikasi dari UI, Dr. Ade Armando, M.Si. mengungkapkan Indonesia merupakan negara dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pemerintah. Gaya komunikasi Jokowi menggunakan kekuatan nonverbal. Jokowi merupakan pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyat dan tidak sungkan untuk meminta maaf.

“Pemerataan kesejahteraan masyarakat semakin baik, penurunan angka pengangguran, sepuluh ribu sertifikat tanah dibagikan merupakan bukti dari keberhasilan pemerintah,“ ujar Ade Armando.

Jokowi terbiasa mendengarkan dengan membuka pikiran dan hati. Jokowi memiliki kemampuan mendengarkan dengan rendah hati. Ketika ditanya mengenai kemungkinan Jokowi menjadi Ketua Umum Partai, Anggota DPR RI, fraksi PDI-P, Dra. Eva Kusuma Sundari, M.A., MDE menjawab pemilihan ketua umum partai semua di bawah keputusan kongres. Aturan kongres menjelaskan anggota partai tidak boleh memiliki rangkap jabatan pemerintah dan jabatan partai.

Ketua Umum Rumah Kreasi Indonesia Hebat, Kris Budiharjo, memaparkan Jokowi merupakan komunikator ulung dengan semua kalangan. Jokowi memenangkan suatu pemilihan namun tidak sombong. Jokowi tidak pernah menggurui, tegas, dan tidak mempermalukan orang lain.

Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, juga menjelaskan Jokowi mengubah pembangunan yang Jawasentris menjadi Indonesiasentris dengan menyatukan orang di perbatasan. Jokowi tidak segan belajar dari masyarakat langsung dengan aktif mendatangi masyarakat untuk menyelesaikan persoalan. Presiden Jokowi melakukan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan sehingga kebijakan diputuskan bersama-sama.