Seminar MPAK: “Politics, Church, and The World”

JAKARTA-REPORTER Prof. Paul Marshall dari Baylor Universiy, Texas, Amerika Serikat, hadir untuk kedua kalinya di Kampus Kasih, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Senin, 7 Agustus 2017. Beliau hadir sebagai pembicara dalam Seminar bertema “Politics, Church, and The World” bertempat di Auditorium Grha William Soeryadjaya, FK UKI, Cawang. Acara ini terselenggara atas kerja sama Program Studi (Prodi) Magister Pendidikan Agama Kristen (MPAK) Pascasarjana UKI, Pusat Studi Lintas Agama dan Budaya UKI, dan Institut Leimena.

Rektor UKI, Dr. Maruarar Siahaan, S.H., hadir memberikan sambutan sekaligus membuka acara seminar. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa gereja juga perlu berperan dalam dunia politik.

“Media sering bertanya, kenapa gereja berbicara tentang politik, tetapi saya katakan, gereja tidak bisa melepaskan diri dari situasi ini karena gereja merupakan bagian daripada organisasi di negera ini dengan jemaatnya yang terkadang merasa terancam dengan kondisi yang terjadi,” tutur Rektor.

Seminar ini dimulai dan moderatori oleh Mita Yesyca, M. SC., Dosen Fisipol UKI.

“Saya senang sekali kembali ke UKI,” sapa Prof. Paul dalam bahasa Indonesia saat mengawali presentasinya.

Prof. Paul memaparkan materi seminar melalui beberapa tayangan video yang mengupas keterkaitan antara politik, gereja, dan dunia dalam sudut pandang teologis.

“Allah peduli dengan segala aspek kehidupan kita. Allah juga peduli pada kehidupan politik kita. Bagaimana kita mengatur lingkungan kita, kota, provinsi, dan negara kita. Itu semua sangat penting bagi Allah juga, dan karena mereka penting di mata Allah maka hal itu penting juga bagi kita. Jadi, kita perlu mengembang tanggung jawab dalam semua bidang ini, dan memandangnya sebagai tanggung jawab orang Kristen,” kata Prof. Paul.

Perihal politik, orang Kristen sering kali membuat dua kesalahan yang bertentangan. Pertama, pola pikir bahwa politik adalah jahat dari iblis, kotor, dan kita tidak boleh ada hubungan dengannya. Kesalahan lain adalah berpikir bahwa bagian besar dari Injil adalah terkait dengan keadilan, dan keadilan terhubung dengan politik.

“Politik itu penting, tapi hanya merupakan satu bagian dari tanggung jawab kita dalam dunia Allah. Poin pertama adalah bahwa kita bertanggung jawab atas dunia Allah. Politik adalah bagian dari kunci itu, tapi bukan satu-satunya,” jelasnya.

Pemaparan Prof. Paul tak hanya berfokus pada politik saja, tetapi lebih kepada bagaimana kita harus melihat diri kita sebagai orang Kristen yang hidup di dunia Allah. Beliau juga berbicara tentang mandat kultural (budaya) yang kuat bahwa manusia diciptakan untuk merawat bumi. Mandat budaya adalah bagain dari sebuah rencana penciptaan dunia. Pengelolaan bumi oleh manusia ini adalah kelanjutan dari tindakan kreatif Tuhan.

“Kita diberikan kekuasaan dan otoritas, sehingga ketika kita menjadi buruk, kita membuat banyak hal lain menajdi buruk dan ini sesuatu yang kita lihat berkembang sangat cepat dalam Alkitab. Allah ingin merekonsiliasi seluruh dunia kepada diri-Nya melalui Yesus Kristus. Ketika berbicara tenatang rekonsiliasi, kita berbicara tentang menyesuaikan dunia pada Allah. Dunia diciptakan dan dijadikan, kini disesuaikan kepada Allah,” ujar Prof. Paul.

Prof. Paul juga menekankan, Tuhan tidak hanya peduli pada apa yang kita lakukan dan cara kita hidup di dalam gereja. Memang hal ini hal yang penting, tanpa gereja yang hidup, semua hal yang lain akan perlahan atau mungkin segera hancur.

“Tapi, itu bukan hanya hal itu saja yang menjadi perhatian Allah. Allah peduli pada dunia, Allah telah membuat perjanjian dengan dunia. Jadi, Allah peduli pada dunia, keluarga kita, hubungan kita, dengan orang tua dan anak-anak kita,” ujar Prof. Paul. (jeh/lis)