Seminar Peran Bank Perkreditan Rakyat dalam Pembiayaan Pelaku UMKM

JAKARTA-REPORTER          Kestabilan ekonomi negara juga didukung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Akan tetapi, banyak Pengusaha mikro kecil dan menengah yang memiliki kendala dalam mengembangkan usahanya. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bertugas menambah jumlah rekanan UMKM untuk dibiayai.

Akademi Perbankan Universitas Kristen Indonesia (AP UKI) mengadakan Seminar Edukasi dan Literasi Bank Perkreditan Rakyat dengan tema “Peran BPR dalam Meningkatkan Akses Pembiayaan kepada Pelaku UMKM”. Seminar diadakan di Ruang Seminar Lantai 3, Kampus UKI Cawang, pada Kamis 23 November 2017.

Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hukum, dan Kerja Sama, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA,. Beliau berpesan, edukasi dan literasi keuangan diperlukan pengusaha kecil untuk semakin berkembang.

Foto bersama D(kiri ke kanan): Direktur AP UKI, Warek Kemahasiswaan, Hukum, dan Kerja Sama, dan Ketua Umum Perbarindo

Seminar di hadiri oleh mahasiswa/i dari Universitas Kristen Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Borobudur, Institut Bina Nusantara, STT Kerusso Bekasi, STIE PBM Jakarta, Universitas Esa Unggul, dan siswa/i SMK Perdana Kusuma.

Turut hadir Direktur Akademi Perbankan UKI, Dr. Lis Shinta, S.E., M.M., dan Ketua Umum Perbarindo, Wage Abdi Praja. Wage Abdi Praja menjelaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami produk keuangan dan layanan keuangan. Indeks literasi pemahaman keuangan sebesar 29% sedangkan indeks literasi keuangan sebesar 67%.

Pembicara dalam seminar ini adalah David Iskandar, beliau adalah Direksi Bank Perkreditan Rakyat Daya Arta. David mengingatkan mahasiswa untuk melakukan perencanaan keuangan dengan menabung dan cermat dalam memilih jenis investasi.

Saat presentasi David memaparkan bahwa Bank Perkreditan Rakyat merupakan bank yang melaksanakan usaha secara konvensional atau berdasar syariah, namun tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

 

 

“BPR adalah badan usaha yang mendapatkan keuntungan bunga dari nasabah. Selain menabung, nasabah dapat mendapat pinjaman kredit dan menukarkan mata uang di BPR,” ujar Alumni AP YUKI ini.

David Iskandar menjamin nasabah tidak perlu khawatir akan keamanan dari tabungan karena BPR merupakan peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kelebihan menabung di BPR adalah saldo minimum lebih rendah, setoran rendah, dan suku bunga yang lebih tinggi. BPR memiliki tiga jenis kredit yaitu kredit konsumsi, kredit modal kerja, dan kredit investasi.

Usaha Mikro merupakan usaha yang memiliki aset maksimal lima puluh juta rupiah dengan perputaran omset maksimal sebesar tiga ratus juta rupiah per tahun.  “UMKM lebih tahan dari krisis dan tidak mudah bangkrut. BPR membiayai UMKM yang memiliki reputasi produk yang bagus dan tidak berpotensi kredit macet. BPR mencari calon debitur dengan pendekatan sosial dan selalu memantau portifolio debitur UMKM,” ucap pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Yayasan Karsa Handayani ini.

Direktur AP YUKI, Dr. Lis Shinta, S.E., MM., menyerahkan plakat kepada Narasumber, David Iskandar.

Bank Perkreditan Rakyat banyak berkembang di daerah namun terkendala sistem teknologi informasi perbankan dan kendala permodalan.  “Kami mengakui BPR bersaing dengan Financial Technology dalam melakukan usahanya. Kemajuan teknologi informasi tidak bisa dipungkiri. Tapi kami akan mengajak kompetitor untuk berkolaborasi. Masyarakat nantinya tinggal memilih financial technology di smartphone mereka atau bertemu customer service kami di Bank Perkreditan Rakyat, “ ungkap David Iskandar.

Setelah mendengarkan pemaparan dari David, 10 (sepuluh) peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan suvenir menarik dari BPR.