Seminar Peran Teknik Sipil dalam Meminimalisir Dampak Bencana

JAKARTA-REPORTER       Wilayah Indonesia memiliki potensi bencana yang tinggi sehingga dapat merugikan negara. Hal ini disampaikan Ir. Adang SAF Ahmad, CES, dalam Seminar Nasional “The Role of Civil Engineering in Minimizing Disaster Effect”. Seminar yang diadakan di Auditorium Grha Wiliam Soeryadjaja, FK UKI, Jakarta (14/12) ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sipil Fakultas Teknik UKI.

Seminar dibuka dengan kata sambutan Wakil Rektor UKI Bidang Kemahasiswaan, Hukum Dan Kerja Sama, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H. M.H. MBA, Kepala Prodi Teknik Sipil UKI, Ir. Risma M. Simanjuntak, M.Eng, Ketua Seminar Nasional, Ryan Rifaldi, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Sipil, Wili Josua Pasaribu. Pembicara seminar antara lain, Ir. Adang SAF Ahmad, CES, Dr. Ir. Hari Nugraha Nurjaman, M.T., dan Prof. Ir. Paulus P. Rahadjo , MSCE, Ph.D.  Moderator seminar ialah Ir. Pinondang Simanjuntak, MT.

Wakil Rektor Kemahasiswaan, Hukum dan Kerja Sama, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA. saat membuka Seminar Nasional

Sebagai Staf Ahli Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian PUPR, Ir. Adang SAF Ahmad, CES menyampaikan perlunya penyamaan persepsi semua pihak dalam melakukan mitigasi bencana agar terkoordinasi dalam pelaksanaannya. Salah satu strategi yang dapat ditempuh antara lain pemetaan daerah rawan bencana.

“Kebijakan mitigasi bencana di antaranya penyusunan peta dan resiko bencana serta penerapan desain dan struktur bangunan tahan gempa. Pemerintah telah membentuk Pusat Studi Gempa Bumi Nasional, yaitu organisasi formal nonstruktur yang bertugas mendukung kegiatan pemutahiran peta bahaya gempa bumi  nasional secara berkala, melakukan koordinasi dengan kementerian tentang peralatan, dan analisis karakteristik kegempaan sebagai pemutahiran peta bahaya dan risiko gempa bumi,” jelas Adang.

Pemerintah telah membentuk tim pemutakhiran peta bahaya gempa bumi Indonesia tahun 2016 dan penyiapan pusat studi gempa bumi nasional. Tim ini bertugas menemukan dan mengidentifikasi sumber kegempaan yang baru baik dari sisi geologi, seismologi, dan geodesi yang berasal dari penelitian terkini. Nantinya akan berdampak kepada peningkatan keakuratan estimasi parameter yang penting dalam mengonstruksi peta gempa.

Ketua umum Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia, Dr. Ir. Hari Nugraha Nurjaman, M.T., mengatakan Indonesia berhadapan dengan bencana karena terletak di pertemuan lempeng tektonik. Tahun 2010 telah diterbitkan Peta Gempa Indonesia yang disusun sebagai antisipasi data gempa baru. Lalu di tahun 2012, aturan pendetailan menjadi lebih ketat.

“Gempa bebannya sangat besar tapi waktu kedatangannya tidak bisa diduga. Teknologi precast atau pracetak dapat digunakan pada bangunan tahan gempa. Merancang gedung yang dapat mengantisipasi gempa dengan cara mengontrol hasil desain dan menuntut pelaksanaan detail saat pembangunan.  Saat ini struktur khusus yang pelaksanaannya membutuhkan detail yang lebih rumit, sehingga lebih sulit dilaksanakan dan perlu pengawasan yang lebih ketat. Penggunaan base isolaton dari Jepang, “ ungkap dosen ITB ini.

Di samping itu, Prof. Ir. Paulus P. Rahadjo , MSCE, Ph.D. menyebutkan beberapa gejala bisa dilihat dan dipelajari sebelum terjadinya longsor. Investigasi longsor bisa dilakukan dari bergesernya lereng dan degradasi dari tanah bergeser yang kuat. Faktor pemicu longsor juga disebabkan permukaan air naik karena hujan, permukaan batu yang rapuh, dan keretakan batu.

Longsor terbanyak terjadi akibat tanah koluvial. Tanah koluvial adalah tanah yang terbentuk oleh pergerakan tanah dari tempat asalnya akibat gravitasi seperti yang terjadi pada saat tanah longsor. Gelombang seismik menyebabkan longsor. Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya adanya patahan atau adanya ledakan. Kerusakan batu lereng gunung akibat dari proses seismik.

“Proses evakuasi masih menggunakan cara manual karena ketika terjadi longsor, alat berat tidak bisa diturunkan karena jalan yang terputus. Keberadaan fasilitas umum di bawah tanah menjadi salah satu cara untuk menghindari gempa. Bencana longsor bisa karena alam atau longsor karena manusia. Longsor disebabkan erosi, kenaikan air, pelapukan tanah, dan pemerintah yang bertanggung jawab untuk menginvestigasi penyebabnya. Sedangkan longsor yang disebabkan manusia biasanya sifat tanahnya bisa ditentukan dan pemilik tanah bertanggung jawab terhadap longsor,” ujar Dosen Universitas Parahyangan ini.

Contoh longsor karena alam adalah Tanah longsor di Gunung Salak, Jawa Barat tahun 1995. Proses kerusakan terjadi karena aliran air tanah dan air hujan meningkatkan tekanan keretakan. Tahun 2009 terjadi kerusakan batu lereng gunung akibat dari proses seismik yaitu di Cikangreng, Cianjur.