Seminar Reformasi Politik di Indonesia

Reformasi politik di Indonesia akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa kokoh dengan pluralitasnya. Hal ini disampaikan Dr. Isbodroini Suyanto, MA dalam seminar Preparing The Modern World: The Historical and Cultural Siginificance of the Reformation. Seminar diadakan di Graha Wiliam Soeyadjaya UKI, pada tanggal 6 November 2017.  Seminar ini diadakan oleh FISIPOL UKI bekerjasama dengan persekutuan Gereja Indonesia, program studi MPAK UKI, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia. Acara digelar dalam rangka memperingati 500 tahun reformasi Gereja dan Dies Natalis FISIPOL Universitas Kristen Indonesia ke- 23.

Acara dibuka oleh kata sambutan dari rektor UKI yaitu Dr. Maruarar Siahaan SH. Pembicara dalam seminar ini adalah Prof. Hans Peter Grosshans, Dr. Desi Sianipar. M.Th, dan Prof. Dr. Isbodroini Suyanto, MA dan Prof. Dr. Demsy Jura, M. Th.
Pembicara Prof. Hans Peter Grosshans ialah guru besar Teologi Protestan dari University of Munster Jerman. Ia menyampaikan perkembangan sejarah reformasi yang berdampak pada globalisasi, terutama yang berkaitan dengan reformator Martin Luther. Martin Luther adalah salah satu professor pertama di bidang teologi di Jerman. “ Reformasi menghasilkan toleransi baik di negara Jerman dan Indonesia.  Reformasi mengubah wajah Eropa menjadi plural. Menurut Marthin Luther agama dan politik tidak boleh saling terkait. Agama merupakan iman kepada injil sedangkan politik harus berdasarkan pertimbangan logika, “ ungkap Prof. Hans Peter Grosshans. Ada beberapa dampak reformasi di Jerman yaitu adanya media untuk mempengaruhi masyarakat dan berkembangnya pendidikan untuk semua masyarakat.

Dr. Isbodroini Suyanto, MA ialah pendiri program studi Ilmu Politik di FISIPOL UKI. Dr. Isbodroini Suyanto mengatakan negara Barat mempengaruhi kehidupan perpolitikan di Indonesia dari masa Demokrasi Parlementer hingga terjadinya Reformasi Politik. “Di masa reformasi sekarang, berkembang otonomi daerah  yang memunculkan fenomena etnosentrisme yaitu sikap mementingkan kelompoknya sendiri. Fenomena tersebut muncul pada tahun 2000 ketika pemilihan Kepala Daerah dan wakilnya,” ungkap Dr. Isbodroini Suyanto, MA. Pemerintah sebaiknya menciptakan nation building yang merupakan lem perekat untuk menjaga integritas bangsa. Empat pilar bangsa yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI agar disosialisasikan melalui lembaga formal dan non formal.

Pembicara Dr. Desi Sianipar, M. Th menceritakan reformasi pendidikan dan pengaruhnya pada masa kini. Prinsip reformasi yang dijadikan landasan reformasi pendidikan adalah pembenaran oleh iman, supremasi Kitab Suci dan keimaman orang percaya. “Martin Luther mengatakan kesetaraan semua orang di hadapan Tuhan oleh karena baptisan, injil dan iman yang dimiliki bersama semua orang,” ungkap  Dr. Desi Sianipar, M. Th. Tiga macam pendidikan yang mendapat perhatian besar dari Luther yaitu pendidikan Agama Kristen dalam keluarga, pendidikan kaum muda, pendidikan orang dewasa dan pendidikan wanita. Dr. Desi Sianipar, M. Th menambahkan radikalisme di Indonesia dapat dihilangkan jika kuatnya pendidikan agama Kristen di dalam keluarga.(lulu)