Seminar & Workshop Menghemat Biaya Listrik Dengan Panel Surya dan Kincir Angin

CIANJUR-REPORTER. Pada hari Rabu, 18 November 2015, Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia (FT UKI) mengadakan Seminar & Workshop Penghematan Energi Listrik dengan Menggunakan Kincir Angin dan Panel Surya. Kegiatan ini diadakan berdasarkan kerja sama FT UKI dengan GKP Palalangon, berlokasi di Gedung Serbaguna GKP Palalangon, Kabupaten Cianjur. Sasaran kegiatan ini adalah warga jemaat GKP Palalangon dan warga sekitar.

Sambutan dari Pranata, majelis jemaat setempat membuka acara ini, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ir. Kimar Turnip, M.Si., Kaprodi Teknik Mesin FT UKI. Melya Dyanasari Sebayang, S.Si., MT., Sekretaris Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) menuturkan bahwa rangkaian kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun lalu.

“Dari survei tempat, persiapan, instalasi kincir di keramba. Kerja sama kita dengan GKP sudah ada MoU-nya,” ungkapnya.

Peragaan pemasangan panel surya
Peragaan pemasangan panel surya

Dalam pertemuan tersebut hadir Suwanda, salah satu warga jemaat yang tempatnya dipasangi instalasi panel surya dan kincir pembangkit listrik. Beliau menuturkan bahwa biaya listrik sehari-hari jadi lebih murah

“Saya bisa hemat biaya listrik hingga Rp 100.000 per bulan. Pakai panel surya, tempat saya terang terus sampai malam.”

Dalam seminar dan workshop yang dimoderatori oleh Ir. Budiarto, M.Sc., ini, dibahas tentang komponen-komponen kelistrikan dan pemasangan instalasi yang sesuai SNI. Para warga juga diberi tips-tips penghematan listrik sehari-hari. Melya sebagai pembicara seminar sesi I menjelaskan bahwa lebih baik mahal tapi aman, daripada murah tapi berbahaya.

Ir. Rahmad Samosir, MT., membawakan materi di sesi workshop. Dalam kesempatan tersebut, beliau menerangkan prinsip kerja panel tenaga surya.

“Panel surya mengambil tenaga dari cahaya matahari, bukan dari panasnya. Bahkan saat matahari belum terlihat pun, panel surya sudah mulai mengisi tenaga,” tuturnya

Beliau lalu menjelaskan perbandingan keuntungan dan kerugian dalam menggunakan pembangkit listrik tenaga surya dibandingkan sumber-sumber lain.

“Kalau di pedalaman yang belum tersentuh PLN, pembangkit tenaga surya jauh lebih efisien dan efektif dari segi biaya dibandingkan penggunaan genset. Namun bila di kota atau daerah yang sudah tersentuh PLN, biayanya lebih murah listrik PLN.”

Panel surya di sisi tangki air, di latar belakang kincir pembangkit listrik
Panel surya di sisi tangki air, di latar belakang kincir pembangkit listrik

Pemasangan instalasi listrik di tempat Suwanda menggunakan sistem hibrid, yaitu masih menggunakan listrik PLN, yang dikombinasikan dengan listrik dari panel surya dan kincir. Dengan begitu, penghematan biaya listrik secara signifikan tercapai.

Kegiatan lalu dilanjutkan dengan peragaan pemasangan instalasi panel surya sederhana di samping ruang serba guna. Dibantu oleh para mahasiswa, Ir. Rahmad memasang rangkaian panel surya dan menyalakan rangkaian lampu LED yang sudah tersambung dengan panel surya tersebut. Satu keping panel surya dapat memproduksi listrik sekitar 70 watt. Panel tersebut disambungkan ke controller yang tersambung dengan baterai mobil untuk menyimpan daya listrik yang dihasilkan. Controller berfungsi sebagai pengendali sekaligus monitor tenaga listrik yang masuk dan keluar.

Para peserta menyambut antusias dengan pertanyaan-pertanyaan terkait efisiensi biaya, jenis lampu yang digunakan, hingga tempat pembeliannya.

Kegiatan ditutup dengan doa dan makan siang bersama. Selanjutnya, rombongan UKI mengunjungi tempat instalasi panel surya dan kincir angin milik Suwanda. Tempat berupa restoran terapung itu berada di Bendungan Cirata. Sambil menikmati kopi dan penganan, para mahasiswa dan dosen bertukar cerita tentang penggunaan keseharian kincir dan panel surya di sana. Terbukti, penggunaan panel surya dan kincir dapat menghemat biaya listrik secara signifikan.

 

(Jez/Ted)