Sharing Kiprah Alumni UKI di PPMB 2017

JAKARTA-REPORTER Peran alumni terkadang sering dilupakan, padahal banyak potensi strategis yang bisa dimanfaatkan dari alumni. Kesuksesan dan prestasi alumni di tengah masyarakat dapat menjadi salah satu faktor pengambilan keputusan orang tua atau calon mahasiswa ketika akan memilih perguruan tinggi. Peran alumni pun diperhitungkan dalam proses akreditasi sebuah institusi pendidikan.

Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang berdiri hampir 64 tahun telah mencetak banyak alumni berprestasi dan berperan penting di masyarakat, seperti Menteri, Gubernur, Pejabat pemerintahan, Dokter, Pengacara, hingga artis terkenal. Hal itu menjadi salah satu faktor penting bagi eksistensi UKI di tengah kompetisi antarkampus yang semakin tajam.

Pada hari ketiga Program Pembinaan Mahasiswa (PPMB) UKI Tahun Akademik 2017/2018 (23/8), Panitia PPMB menghadirkan 4 (empat) alumninya yang telah meraih kesuksesan di dunia kerja. Dikemas dalam talk show interaktif bertema “Alumni untuk Almamater”, yang dipandu oleh Host, Hanna Pertiwi Nababan, S. Sos., M. IKom, di Aula Lantai 3 UKI, keempat alumni kebanggaan UKI ini berbagi kisah dan pengalaman mereka saat di bangku kuliah hingga meraih kesuksesan.

Sebelum talk show dimulai, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Hukum, dan Kerja Sama, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA., yang juga Alumni Fakultas Hukum UKI Angkatan 1981, menyampaikan kata pengantarnya.

“Kita mau kasih lihat bahwa UKI itu hebat. Yang bilang UKI nggak hebat, minggir saja. Dan seperti yang saya sampaikan dua hari lalu bahwa kita ada di sini karena kita ingin menjadikan apa yang kita cita-citakan itu menjadi suatu kenyataan. Yang punya cita-cita bukan cuma kita, tapi juga orang tua, saudara kita, semua berharap kita menjadi orang yang benar, baik, dan sukses. Oleh karenanya, kita sama-sama dengar kisah sukses mereka yang akan dibawakan secara interaktif,” kata Dr. Dhaniswara.

Keempat alumni yang menjadi tamu pada acara ini adalah Dr. Ir. Kamaruzzaman Onaning, M.M., M.H. (Direktur Utama PT. Pulo Mas Jaya), Dr. Zarof Ricar, S.H., S. Sos, M. Hum. (Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung), Brigjen TNI Syamsidar Syamsul, S.H., M.H. (Direktur Hukum Angkatan Darat), dan dr. Batara Imanuel Sirait, Sp.OG (K).

Dr. Kamaruzzaman menjadi narasumber pertama yang berbagi pengalamannya. Pria kelahiran Medan, 23 Agustus 1954, tepat di hari ulang tahunnya pada saat itu, beliau mengaku sangat bangga menjadi lulusan UKI.

“Saya lulus dari UKI tahun 1981, saat lulus saya langsung mendapat tiga pekerjaan. Saya bekerja di tiga PT, itu kebetulan jadi konsultan semua,” ujarnya disambut riuh tepukan para mahasiswa baru.

Beliau berpesan kepada para mahasiswa baru agar menjadi mahasiswa/i yang inovatif dalam menghadapi persaingan ke depan, “Dalam perjalanan, saya melihat setiap tahun itu pesaing kita semakin banyak, kalau pesaing kita banyak, kita harusnya inovatif, kalian pun waktu menjadi mahasiswa harus bisa inovatif karena kita tahu ada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kita bawa nama UKI. Jika kita melihat berita, misalnya banjir, kalian turun ke lapangan. Mereka (korban) rindu mahasiswa, kita bantu mereka sehingga UKI itu punya branding,” tutur Kamaruzzaman.

Tak jauh berbeda dengan Dr. Kamaruzzaman, rasa bangga turut menyelimuti Kepala Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI, Dr. Zarof Ricar, S.H., S. Sos., M. Hum., saat berbicara di hadapan mahasiswa baru, yang semasa kuliah di Fakultas Hukum (Angkatan 1981) beliau dikenal sering tertidur saat belajar kelompok.

“Kita bangga S1-nya dari UKI. Memang waktu itu FH di dalam berkelahi terus, tapi kalau di luar kita selalu kompak. Jadi, saya bangga jadi Alumni UKI. Mudah-mudahan jangan meniru saya tukang tidur, tapi walaupun saya tidur, saya juga bisa Cum Laude. Apalagi sekarang saya sebagai Kepala Diklat Peradilan MA, jadi seluruh aparat hukum dan pengadilan saya didik, jadi saya lebih hebat. Jadi, boleh dibilang saya rektornya hakim, walaupun saya sendiri tidak hakim. Jadi, banggalah jadi anak UKI,” cerita Dr. Zarof yang menuai sorak tawa mahasiswa.

Satu-satunya Alumni UKI yang pernah menjadi seorang jenderal saat ini adalah Brigjen TNI Syamsidar Syamsul, S.H., M.H., alumni FH UKI Angkatan 1981. Perwira Tinggi TNI yang baru mendapat promosi kenaikan pangkat pada Februari 2017 lalu ini merupakan kawan seangkatan Dr. Dhaniswara dan Dr. Zarof Ricar di Fakultas Hukum. Kehadiran beliau paling ditunggu dan mendapat sambutan yang meriah dari seluruh hadirin. Brigjen Syamsul pun memberikan motivasi berharga kepada para mahasiswa baru agar dapat meraih kesuksesan.

“Saya mengajak kalian bagaimana kita menjadi mahasiswa-mahasiswa yang visioner. Gantungkan cita-cita dan visi kita ke depan, punya visi sama seperti punya mimpi, punya mimpi yang harus kita raih, raih dengan visi misi itu. Ini belum berhenti, jadi saya minta kepada adik-adik sekalian, jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Apa yang saya raih ini adalah bagian terkecil dari perjuangan anak-anak UKI. Harapan saya, saya sekarang jadi Brigjen, atau siapa tahu nanti jadi Mayjen, saya mau ke depan ada yang bisa melebihi pangkat saya. apa yang tidak bisa kita lakukan kalau kita mempunyai visi dan misi yang baik,” tutur Brigjen Syamsul.

Alumni terakhir yang sharing pengalamannya adalah dr. Batara Sirait, Sp. OG. (K), dokter spesialis kandungan ini merupakan alumni Fakultas Kedokteran UKI Angkatan 1990. Beliau pun memberikan pesan-pesan kepada para mahasiswa dalam menjawab tantangan di era globalisasi saat ini.

“Anda semua, kita semua baru akan berguna menjadi manusia di masyarakat ketika kita mampu menjawab tantangan. Ada masalah kita jawab, kita menjadi problem solver, menjadi bagian yang menjawab tantangan, menjawab petanyaan, menjadi penyelesai masalah, menjadi pelopor bukan pelapor,” tegas dr. Batara.

Menurut dr. Batara Sirait, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) juga penting dalam memasuki dunia kerja.

“Kalau kita mampu menjadi problem solver baru kita diterima di market place, di dunia kerja. Di market place tantangannya kita mesti berkompetisi. Anda lulus dari UKI dengan IPK berapa, anda yang tentukan sendiri. Percaya dengan saya, dengan IPK 2, agak sulit anda masuk dunia kerja. Kalian harus siap dengan kompetisi karena tempat perkerjaan kita akan mencari orang-orang terbaik untuk dipekerjakan,” tandasnya.

Di akhir paparannya, dr. Batara berpesan kepada mahasiswa/i baru UKI Tahun Akademik 2017/2018, agar tak berhenti belajar serta takut akan Tuhan.

“Tidak boleh berhenti belajar, dan cara terbaik belajar adalah mengajar. Pohon dilihat dari buahnya, orang akan menilai UKI dari mahasiswanya dan dari alumninya, mahasiswa yang menjuarai lomba ini-lomba itu, berprestasi di luar negeri. Terakhir, kita harus selalu rendah hati, minta pertolongan Tuhan. Takut akan tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7). Tetap bergerak tetap maju, jangan pernah berhenti,” pungkas dr. Batara.

(jeh/lis)