Talkshow Online FH UKI: “Rahasia Bank dalam Praktek di Indonesia dan Swiss”

“Ketika melihat kerahasiaan bank, bukan bank yang dirahasiakan, tetapi isinya adalah hal-hal yang substansial. Bank merupakan lembaga kepercayaan, tanpa kepercayaan bank tidak mungkin berjalan, karena dari stuktur dan modal dari pemegang saham hanya 8% saja. Artinya 92% milik masyarakat,” ujar Ketua Lembaga Anti Pencucian Uang Indonesia, Agus Triyono, S.H., M.Kn dalam Talkshow Online “Rahasia Bank dalam Praktek di Indonesia dan Swiss” yang dilaksanakan oleh  mahasiswa FH UKI angkatan 2018 (09/01).

Agus Triyono menambahkan bahwa setiap negara memiliki peraturan tertentu dalam penggunaan rahasia bank dengan pembatasan-pembatasan tertentu. Di Indonesia, UUD No 10 tahun 1998  menyebutkan bahwa rahasia bank hanya terbatas kepada nasabah penyimpan (deposan) dan simpanannya saja, sehingga yang di rahasiakan adala saldonya, profil dan isi dari simpanan itu. Disebutkan dalam UUD, bank merupakan agen pembangunan.

Negara Swis memiliki SDM nya terbatas dibanding Indonesia. Tingkat kerahasiaan bank relatif ketat dan ada juga yang bersifat absolut. Hampir di seluruh dunia sudah tidak menggunakan rahasia bank absolut. Apabila tetap di lakukan secara absolut maka akan dikucilkan oleh negara internasional.

Peserta webinar terdiri dari 52 peserta yang di hadiri dari beberapa universitas, diantaranya Universitas Neo, UIN SUNAN AMPEL SURABAYA, Universitas Bosowa, Universitas Gunadarma, Universitas Bina Sarana Informatika, STT Setia Jakarta, Sekolah Tinggi Perpajakan Indonesia, Universitas Mulawarman, Univeristas Kristen Indonesia.

Kegiatan di hadiri oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Hulman Panjaitan, S.H., M.H.,   dosen Fakultas Hukum UKI Diana Napitupulu,SH.,MH.,MKn.,MSc. dan moderator Tirza Mariani Claudya (mahasiswa FH UKI).

Webinar diakhiri dengan sesi tanya jawab dan seluruh peserta mendapatkan e-certificate.