UKI Tuan Rumah Seminar Reposisi Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0

JAKARTA-REPORTER                       Perguruan tinggi Indonesia bersama pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan patut menyiapkan diri agar Indonesia menjadi bangsa yang berkontribusi positif terhadap masyarakat global. Universitas Kristen Indonesia bekerja sama dengan Kopertis wilayah 3 dan Indostaff menyelenggarakan acara seminar “Reposisi Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0.”

Seminar digelar di ruang auditorium Grha William Soeryadjaya FK UKI, Cawang, pada Sabtu 5 Mei 2018. Seminar diikuti pimpinan tingkat rektorat, dekanat, staf pendidik, staf kependidikan di UKI, anggota Indostaff, dan perguruan tinggi swasta di wilayah Kopertis Wilayah III.

Rektor UKI Dr. Dhaniswara K. Harjono, SH., M.H., MBA memberikan kata sambutan, “Perguruan tinggi harus menyadari perubahan yang terjadi di dunia dan mengantisipasi perubahan di era revolusi industri 4.0. Kita harus menanggapi tantangan yang ada untuk menghasilkan alumni unggulan.”

Presidium Indostaff Prof. Fatchiyah N, Ph. D turut menjelaskan bahwa Indostaff memiliki program Magister Higher Education yang memberikan edukasi administrasi sesuai perguruan tinggi. Pendidikan harus menyesuaikan dengan revolusi industri 4.0.

Koordinator Kopertis Wilayah III, Dr. Ir. Illah Sailah, Ph.D mengatakan, “Pendidikan tinggi swasta menyambut revolusi industri 4.0. Perguruan tinggi menetapkan standar pendidikan tinggi, standar penelitian, dan standar pengabdian masyarakat. Standar tersebut kemudian dapat disahkan oleh yayasan. Perguruan Tinggi swasta harus memiliki standar masing-masing dan tercatat di pangkalan data Dikti.”

Dr. Ir. Illah Sailah, Ph.D mengingatkan agar mahasiswa perguruan tinggi swasta terbuka terhadap perubahan dan menjadi agen inovasi. Dosen mengembangkan modul di era baru industrialisasi digital ini. Vokasi harus bekerja sama dengan indusri.

Ada beberapa strategi menghadapi era digital yaitu komitmen peningkatan investasi di pengembangan kemampuan digital dan selalu menerapkan teknologi terbaru. Kolaborasi antara dunia industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan kemampuan di era digital. Lalu menyusun kurikulum pendidikan yang memasukan materi terkait human digital skill.

Prof. Dr. Sahid Susanto dari UGM menjelaskan, “Aspek manajemen Pendidikan Tinggi menjadi salah satu komponen penting dalam menyongsong era industri 4.0 dan membangun disruptive technology innovation. Sistem manajemen keilmuan perguruan tinggi antara lain satuan penyelenggara Perguruan Tinggi dapat dipandang sebagai korporasi besar ilmu pengetahuan dan perguruan tinggi tidak berorientasi bisnis tetapi menggunakan prinsip bisnis. Prinsip bisnis yaitu efisiensi, efektif, dan produktif. Pelaku Perguruan Tinggi bekerja secara profesional dan dihargai selayaknya sebagai tenaga profesi lainnya.”

Dosen Fakultas Kedokteran UKI, Dr.med. Abraham Simatupang, M.Kes menjelaskan bagaimana dunia kedokteran menjawab perkembangan revolusi industri 4.0. Disruptive innovations adalah perubahan hal lama membentuk profesi baru dan menimbulkan inovasi baru.

“Disruptive innovations memberikan perspektif baru dan berbeda terhadap ilmu, pendidikan, pelayanan kesehatan dan dalam jangka panjang mengurangi biaya dan memperbaiki akses pemberdayaan masyarakat/ pasien. Kemajuan sains menyediakan teknologi yang dapat mencegah dan mengobati penyakit genetik. Pemangku kebijakan harus melihat disruptive innovations sebagai salah satu cara mengembangkan sistem kesehatan yang berkesinambungan,” ujar salah satu pendiri Indostaff ini.

Strategi untuk menghadapi disruptive Innovations adalah melakukan penelitian yang didukung pengaplikasian hasil penelitian, mencari akses inovasi teknologi baru, pendidikan kesehatan yang profesional, promosi kesehatan dan pengobatan presisi/pengobatan untuk satu pasien berbeda dengan pasien lainnya.

Prof. Hendrawan Soetanto, dari  Universitas Brawijaya, Malang menjelaskan universitas perlu mencari metode untuk mengembangkan kapasitas kognitif mahasiswa. Perguruan Tinggi melakukan penelitian dengan penerapan teknologi baru, kerja sama global, dan kolaborasi global. Pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan peningkatan layanan, memacu inovasi dan semangat kompetisi di bidang pendidikan. Pendidikan dilaksanakan dengan program pembelajaran adaptif, pengalaman belajar yang lebih baik, dan belajar sepanjang hayat.