Workshop Nasional Perencanaan Ruang Terbuka Hijau, Kerja Sama UKI dan 8 PTS se-Jabodetabek

JAKARTA-REPORTER              Mengubah citra suatu kota dimulai dengan membangun ruang terbuka hijau yang bermanfaat untuk masyarakat. Profesi arsitek menjadi penentu awal keberhasilan efek ruang terbuka hijau.

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UKI menggelar Workshop Nasional dengan tema “Hybrid Space, Urban Public Space in Contemporary Citiesyang berlangsung selama 3 (tiga) hari, sejak tanggal 21 hingga 23 November 2017, di Ruang Studio Arsitektur C, Gedung FT UKI, Jakarta.  Workshop ini merupakan kegiatan lanjutan dari seminar dengan tema yang sama, pada 15 November yang lalu, di mana telah ditandatangi Nota Kesepahaman (MoU) antara UKI dengan 8 PTS lainnya, yaitu Universitas Bung Karno, Universitas  Budi Luhur, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Pancasila, Universitas Borobudur, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Universitas Trisakti, dan Universitas Persada Indonesia YAI. Salah satu program kerja samanya adalah membuat usulan perencanaan Site Plan dan Detail Plan fasilitas di ruang publik perkotaan: Case Study Ecopark Skywalk Podomoro City, Jakarta Barat.

Workshop dibuka oleh Kepala Program Studi Arsitektur FT UKI, Ir. Bambang Erwin, M.T., dan Prof. Dr. Ing. Uras Siahaan, lic.rer.reg., sebagai Kepala Laboratorium Perencanaan Kota dan Pemukiman. Sebelum workshop dimulai, peserta mendapatkan sharing desain dari Ir. Yori Antar, Presiden Direktur Han Awal & Partners Architects, yang membawakan materi dengan judul “RPTRA dan Hybrid Public Space di Jakarta: Ruang Publik Masa Depan?”

Foto bersama peserta dan panitia workshop

 

Ir. Yori Antar adalah perancang Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Kalijodo, yang dulunya merupakan kawasan prostitusi terbesar di Jakarta. “Ruang terbuka hijau diharapkan merupakan ruang publik yang banyak di pakai masyarakat untuk beraktifitas. Fungsi ruang terbuka hijau dapat menjadi sarana olahraga dan sarana bermain musik,” ucap Ir. Yori Antar. Para arsitek perancang Ruang Terbuka Hijau Kalijodo hingga kini masih terus melakukan perbaikan-perbaikan untuk menjadikan Kalijodo sebagai objek pariwisata.

Pria yang dijuluki Pendekar Arsitektur Nusantara ini memang telah menghasilkan banyak karya. Beliau juga merancang Lapangan Banteng di Jakarta dengan menonjolkan nilai histori pembebasan Irian Barat.  Ukiran gambar pembebasan Irian Barat akan terpasang di sana. Ia bercita-cita Lapangan Banteng dapat

digunakan sebagia tempat untuk pergelaran konser musik atau tari.

“Orang Indonesia seharusnya banyak melakukan ativitas outdoor. Jangan selalu berada di dalam gedung,” ucap Ir. Yori Antar.

Berbagai ruang terbuka hijau di Jakarta dibangun bukan menggunakan dana APBD, tetapi dengan dana KLB (Koefisien Lantai Bangunan) sehingga penunjukkan Ir. Yori Antar sebagai arsitek tidak menggunakan sistem tender.

Ir. Yori Antar mengakui, dirinya banyak menerapkan arsitektur tradisional yang menampilkan ciri khas masyarakat lokal di daerah. Bangunan tradisional yang dimiliki setiap suku di Indonesia itu merupakan kekayaan bangsa yang bisa menjadi daya jual. Beliau juga pernah merancang koridor Gelanggang Olahraga Bung Karno (GBK) Jakarta, dengan menyajikan nuansa di berbagai daerah.

Selain itu, Ir. Yori Antar merancang kota Solok di Sumatera Barat dengan membangun rumah adat setempat. Beliau menggunakan ide kota Solok sebagai Negeri 4 (empat) Raja, sehingga diharapkan Turis wisata semakin banyak datang ke kota Solok dan membeli produk masyarakat lokal.

“Kepala Pemerintah daerah saat ini banyak membangun ruang terbuka hijau untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Selanjutnya ruang terbuka hijau menjadi inspirasi pembangunan kota,” jelas Ir. Yori Antar.

Di studio, mahasiswa akan diarahkan oleh gabungan Tim Dosen dari 8 PTS, yang dikoordinir oleh dosen dari tuan rumah (UKI) dan di bawah pengarahan 3 (tiga)Guru Besar dari UKI, yaitu Prof. Dr. Ing. Uras Siahaan, Lic.rer.reg, Prof. Dr. Ing. Sri Pare Eni, Lic.rer.reg., dan Prof. Dr, James Rilatupa, M. Si.