Workshop Pengembangan Kompetensi Guru Kimia melalui Ranah Afektif

“Fungsi tenaga pendidik adalah sebagai inspirator dan fasilitator, bukan hanya mengajar materi. Dosen dan guru kimia mempersiapkan mental anak didik bahwa kimia itu menyenangkan. Materi pembelajaran kimia yang disampaikan berdasarkan kehidupan sehari-hari. Peserta didik diarahkan mengaktualisasi diri dengan menghasilkan suatu produk, “ ungkap Dosen Prodi Pendidikan Kimia FKIP UKI, Familia Novita Simanjuntak, S.P., M.Si dalam Workshop Pengembangan Kompetensi Guru Kimia di SMAN 1 Jakarta (15/08).

Workshop Pengembangan kompetensi guru Kimia melalui ranah afektif ini merupakan hasil kerjasama antara Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia SMA Wilayah Jakarta Pusat. Workshop diikuti oleh 70 guru kimia SMA se-DKI Jakarta. Acara dihadiri oleh Ketua MGMP Kimia SMA Wilayah 1, Jakarta Pusat dan Nenny Suryani, M.Pd, Kepala Sekolah SMAN 1, Yunidar, M.Pd

Berbagai hal menarik disampaikan oleh beberapa narasumber dari FKIP UKI Jakarta. Salah satu dosen Prodi Pendidikan Kimia FKIP UKI, Leony Sanga Lamsari Purba, M.Pd, menjelaskan tentang media pembelajaran mahasiswa secara online.

“Ada beberapa aplikasi yang dapat membangkitkan keinginan dan minat peserta didik dalam kegiatan belajar kimia. Diantaranya Kahoot.it , Quizizz.com , Google Classroom , Puzzle Atomas. Media pembelajaran ini dapat memperlancar interaksi antara guru dan siswa, memperjelas penyajian pesan dan informasi serta mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu,” ungkap Leony Sanga Lamsari Purba.

Ketua Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UKI, Nova Irawati Simatupang, M.Pd, turut mengingatkan, “Melalui workshop ini harus ada perubahan dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Dalam pelatihan ini berbagi pengalaman antara dosen dan guru Kimia merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kinerja guru kimia. Standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.”

Prodi Pendidikan Kimia FKIP UKI mengajak peserta didik kimia untuk mampu mengubah barang yang tidak berguna menjadi berguna.

“Mahasiswa dan siswa dapat ditumbuhkan kesadaran untuk peduli lingkungan. Contohnya limbah alumunium menjadi tawas. Bapak , ibu dapat melihat penelitian saya di ejournal.uki.ac.id ,” ujar dosen Prodi Pendidikan Kimia, Nelius Harefa, S.Si., M.Pd

Di akhir penyampaian materi sesi pertama ini, Siswa SMAN 1 Jakarta turut mempraktekan reaksi oksidasi reduksi di hadapan peserta workshop ini, untuk membuktikan bahwa kimia itu menyenangkan dan penuh tantangan. Workshop ini akan dilanjutkan tanggal 22 Agustus 2019, 5 September dan 12 September 2019.